Rabu, 26 Maret 2014

Tak Kenal Maka Tak Sayang

“Tak Kenal Maka Tak Sayang”
Sering mendengar pepatah itu? Yah, bagaimana mungkin anda dapat mengetahui diri seseorang jika anda sendiri tidak kenal dengan dia dan anda tidak mengetahui dia siapa.  Pasti kita hanya diam saja atau bahkan kita akan menjauh darinya. Contohnya jika kita pertama kali masuk disekolah yang baru dan tiba-tiba ada yang mengajak kita ngborol, pasti dia akan memperkenalkan dirinya terlebih dahulu kepada kita baru selanjutnya akan membahas topik yang lainnya. Itupun yang dibicarakan pasti bukan masalah yang bersifat pribadi, paling tidak seputar alasan memilih sekolah yang sekarang dan dulunya berasal dari sekolah mana. Tidak mudah untuk mengobrol dengan orang asing, apalagi orang tersebut baru pertama kali dijumpai. Pasti kita tidak mudah percaya dengan orang tersebut kan?

Saya membawa topik ini karena berhubungan dengan pembahasan mengenai mata kuliah teknik wawancara pada hari Kamis, 20 Maret 2014.. Ini adalah tentang Social History.. Namanya juga history, setiap orang punya cerita dan punya kisah. Baik dan buruk itu semua adalah perjalanan yang ada didalam kehidupan, itu adalah kisah kita sendiri. Yang baik akan kita simpan dan yang buruk kita buang jauh-jauh. Tapi, bagaimanapun dan seberapa buruknya itu, pengalaman buruk itu jugalah yang memberikan warna-warni dalam kehidupan kita. Kita jadi dapat memetik suatu hal bahwa tidak semuanya didunia ini baik dan tidak semua orang dapat menjadi guru dalam hidup kita. Karena guru yang sebenarnya untuk diri kita adalah pengalaman kita itu sendiri. itu adalah guru yang utama.




Ingatlah bahwa masalah yang saat ini dihadapi oleh klien tidak hanya disebabkan oleh faktor bawaan (nature) namun juga oleh faktor lingkungan (nurture)”. Sama seperti hubungan antara psikolog dengan kliennya. Seorang psikolog harus membangun rapport terlebih dahulu dengan klien, membangun suatu hubungan, mencari identitas mengenai diri klien dan latar belakangnya seperti apa. Tidak semua masalah yang terjadi disebabkan oleh diri sendiri, semua pasti ada sebab akibat, bisa saja karena lingkungan yang buruk yang mengubah sikap dan prilakunya. Contohnya saja ketika kita punya teman yang terkenal sangat nakal disekolah. Ketika dia tiba-tiba menceritakan masalahnya kepada kita, kita jangan langsung menjudgement dia. kita harus pegang satu kunci bahwa dia percaya sama kita dan dia percaya bahwa kita dapat membantu dia. Kita harus cari tahu dulu asalannya melakukan itu. Ternyata setelah diselidiki, dia menjambak rambut temannya karena temannya tidak mau menemaninya kekantin. Mamanya juga selalu bersikap demikian ketika anaknya tidak mau menuruti kemauan ibunya. Kadang juga rambutnya juga suka diseret kelantai kalau mamanya sedang marah besar secara tiba-tiba. Dia merasa dengan menjambak rambut temannya adalah hal yang biasa, karena dia setiap hari juga mengalami hal seperti itu. Padahal itu tidak baik dan sangat buruk. Maka, kita harus kasih pandangan padanya bahwa itu tidak baik dan tidak seharusnya dia melakukan itu. Kita harus bantu dia membuka mata hatinya dan memberikan solusi yang terbaik itu seperti apa.

      


Terkadang kita juga hanya melihat seseorang dari covernya saja, padahal isi didalamnya tidak seburuk dengan yang ada diluarnya. Melihat gaya berpakaian orang yang berantakan, kita langsung memberikan pandangan negatif dan tidak mau berteman dengannya. Padahal, bisa saja gaya pakaian dia memang seperti itu, dia orang yang terlalu cuek dengan pakaiannya. Kita juga terkadang sepele dengan apa yang diajarkan dan yang diberikan oleh orangtua kita, namun jika itu memang buruk, itu akan berdampak sangat besar untuk kehidupan kita. Terlebih ketika kita sedang dinasehati oleh Mama kita karena kita sedang berpacaran. Mungkin saja mama kita melihat cara dan gaya berpacaran yang kita lakukan salah. Oleh sebab itu, kita harus mengenalkan pacar kita pada orangtua kita agar mereka juga mengetahui latar belakang pacar kita dan mereka juga tidak terlalu khawatir. Kita harus beritahu kita ngapain saja dan ketika kita mulai curiga mengenai sikap pacar kita, kita bisa cerita ke orangtua juga, terlebih mama. Siapa tau mama kita memberikan pandangan dan bisa menceritakan pengalaman masa berpacaran juga kepada kita.

Sebelum kita menanyakan masalah yang dihadapi, ada baiknya kita memberikan dia waktu untuk menceritakan mengenai dirinya. selanjutnya kita bisa bertanya mengenai kehidupannya. Apakah dia sudah menikah? Jika tidak, apakah dia punya pacar? seberapa baikkah hubungannya dengan pacarnya. Bagaimana sikap pacarnya terhadapnya dan bagaimana sikap dirinya sendiri dengan pacar, sudah berapa lama berhubungan, apakah sering ada masalah atau tidak. Selanjutnya, kita akan menanyakan bagaimana hubungannya dengan keluarganya. Apakah didalam keluarganya ada yang mempunyai gangguan mental. Seberapa besar andil keluarga dalam kehidupannya. Ketika sudah mengetahui latar belakang dan identitasnya, kita akan mengetahui alasan perbuatannya melakukan seperti itu.

Tidak berhenti sampai disana, kita juga harus melihat dari faktor lainnya juga. kita bisa menanyakan seputar pendidikannya dia disekolah. Seperti apa hubungan dia dengan temannya, orang-orang yang ada didekatnya, dan disekitarnya. Apakah dia orang yang mudah dekat dengan oranglain atau malah orang yang sangat tertutup, tidak mudah berkenalan dengan orang asing. Tidak salah juga untuk menanyakan apakah sebelumnya dia sudah pernah ketempat psikolog atau psikiater. Siapa tau sebelumnya dia pernah pergi ke psikolog/psikiater. Itu akan membantu kita untuk melihat diagnosa sebelumnya, yang pernah diberikan oleh psikolog. Jangan salah juga, siapa tau ada psikiater yang salah memberikan diagnosa, sehingga dia memberikan obat yang salah juga, atau bahkan dia memberikan obat dalam dosis yang sangat tinggi. Sehingga, itu yang mempengaruhi perkembangannya sampai sekarang.
Contohnya, saat kita mengetahui klien kita hanya tamatan SD dan berasal dari suatu budaya batak. Maka kita harus memaklumi suaranya, kita juga menggunakan bahasa yang biasa, yang tidak ambigu dan tidak terlalu formal, agar dapat memudahkannya untuk mengerti apa yang kita dan sampaikan dan dia dapat nyaman saat bercerita dengan kita. Namun, ada juga beberapa orang yang tidak langsung menceritakan mengenai masalah pribadinya pada kita. Kita tidak harus memaksanya dan jangan sesekali memaksanya. Kita sendiri tidak mudah untuk percaya dengan orang kan? Terkadang apa yang dikatakan oleh teman kita sendiri kita juga bisa ragu, kan? Pasti ada saatnya juga kita ragu mengenai yang diceritakan oleh teman kita, dia jujur gak sih?. Kejanggalan itu juga pasti ada, makanya kelak menjadi seorang psikolog, apalagi saat kita hendak mewawancarai klien, kita harus banyak menggali mengenai diri klien kita dan harus memperhatikan dengan serius setiap hal yang diucapkan oleh klien. Barangkali, ada suatu kata kunci yang bisa kita pakai saat dia menceritakan mengenai masalahnya.


Seperti pepatah yang mengatakan bahwa:

"Hidup ini kamu yg menjalani, kamu adalah penulis kisah hidupmu. Jangan biarkan orang lain yg menentukannya."
"Kita lahir dengan dua mata di depan wajah kita, kita tidak boleh selalu melihat ke belakang, tapi pandanglah semua itu ke depan, pandanglah masa depan kita."
"Jangan takut akan perubahan, kita mungkin kehilangan sesuatu yang baik, namun kita akan peroleh sesuatu yang lebih baik lagi."
"Jangan terpuruk ketika kamu tengah berada dalam situasi terburuk, Tuhan memberikannya padamu, karena Dia ingin kamu lebih kuat dari sebelumnya."



Selasa, 18 Maret 2014

Mengerti untuk Dimengerti, Mendengar untuk Didengar, dan Memahami untuk Dipahami

Mari kita hayati dan rasakan kata per-kata yang ada dijudul.. Apakah kita selalu ingin dimengerti orang lain? Apakah kita pernah mendengarkan apa yang mereka inginkan? Lalu, apakah kita pernah mencoba untuk memahami apa yang sedang mereka rasakan, yang mereka alami, dan yang mereka inginkan??

........
...........
................

Apa pendapat kalian? Apa yang kalian rasakan?? Jawablah dengan hati nurani dan kejujuran..
Mari kita mulai untuk introspeksi diri dan mencoba untuk memperbaiki kesalahan yang telah terjadi..


   

                                   
                       



Sama halnya dengan sebuah wawancara, menjadi seseorang pewawancara itu tidaklah mudah, bukan hanya bertanya dengan sembarangan dan sesuka hati. Begitupula psikolog yang hendak melakukan wawancara, itu HARUS PUNYA HATI. Hati yang benar-benar tulus untuk membantu dan menolong tanpa mengharapkan imbalan atau dibayar. Bertanya itu untuk mencari fakta, kebenaran, dan mengklarifikasikan sebuah kejadian. Dari pertemuan kelas Teknik Wawancara saya yang kelima pada tanggal 13 Maret 2014, Ibu H.E.W. dan didampingi Ci T mengatakan bahwa ada 6 keterampilan yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pewawancara yang baik. Apa saja itu? Mari kita kupas tuntas setajam silet... Hahaha

1. Kemampuan membina rapport 

Rapport adalah usaha untuk menciptakan suasana atau atmosfer yang hangat, yang nyaman, yang dapat mendorong klien untuk berbicara secara bebas, jujur, dan fokus terhadap topik yang sudah ditentukan dari awal. Rapport adalah hubungan antara klien dengan psikolog. Jika rapport terbangun dengan baik, maka klien akan lebih terbuka, nyaman dan jujur dengan psikolog selama proses berlangsung. Dalam hal ini juga banyak hal yang harus diketahui dan dipelajari.


a. Dalam hal berjabat tangan (bersalaman)

Dari beberapa hal yang saya dapat dan saya baca, dikatakan bahwa memberi salam dalam satu pertemuan akan menciptakan kesan pertama yang positif sekaligus membuka pembicaraan ke tahap selanjutnya. Secara teknis, bersalaman adalah menggenggam tangan orang lain dan saling menempelkan bagian tangan di antara jari jempol dan telunjuk, kemudian memberikan tekanan. Yang menjadi masalah dalam berjabat tangan adalah tekanan yang baru saja disebutkan. Sebagian orang menekan tangan orang lain terlampau keras sehingga terkesan ingin meremukkan tulang. Sebagian yang lain melakukan jabat tangan tanpa tekanan sama sekali sehingga terkesan tidak bersemangat. Tekanan itu perlu, tapi penekanannya harus benar dan tepat.

Perlu diketahui, karena kita tinggal di Asia, di Indonesia, ada beberapa hal yang perlu diketahui dalam berjabat tangan. Bagi beberapa kaum muslim, berjabat tangan itu menempelkan kedua tangan dan ada jaraknya. Sedangkan bagi kaum yang lainnya, berjabat tangan itu menempelkan satu tangan ke tangan oranglain. Intinya harus disesuaikan dengan orangnya dan budayanya seperti apa.

b. Ekspresi Wajah
Ekspresi wajah juga sangat menentukan rapport. Jangan memasang wajah yang datar (tanpa ekspresi seperti squidward). Tapi, jika pada dasarnya sudah demikian, usahakan ada sedikit senyuman, agar terlihat setitik cahaya yang terpancar dari wajah.. hehehe
Kemudian, ketika kalian sedang bercerita tentang permasalahannya, jangan memasang wajah judgment, apalagi tampang kaget, dan menangis ketika topik pembicaraannya adalah ditinggal pacar (pasangan). Bisa-bisa kita (psikolog) juga ikutan curhat ke klien, bahaya itu. Intinya stay cool, walaupun dalam hati kaget dan tidak menyangka itu terjadi.

                     


C. Posisi Duduk dan Berpakaian
Sebagai pewawancara dan psikolog yang baik, berpakaian yang baik dan sopan sangat diwajibkan. Untuk wanita, kenakan baju yang tertutup, baju ada kerahnya, atau pakai kemeja dan rok (roknya juga jangan yang terlalu ketat) atau celana bahan berwarna hitam. Sedangkan untuk pria, gunakan kemeja dan celana bahan yang hitam juga. Kemudian, Posisi duduk juga usahakan membentuk sudut 90°. Jangan terlalu dekat juga, bisa bahaya kalau yang masuk adalah pasien yang skizo.

 
      


d. Kondisi Ruangan
Kondisi ruangan yang kondisif dapat membuat klien jadi nyaman. Perhatikan juga barang-barang yang ada disekitar meja. Tidak perlu banyak yang diletakkan diatas meja, seperti komputer, buku, kertas kosong, buku laporan, aneka bolpoin, tisu, kaca, dsb. Jadinya seperti mau dagang, bukan? Sebaiknya, disingkirkan barang-barang yang tidak terlalu penting karena dapat menganggu berlangsungnya wawancara. Terlebih jika ada handphone, dan tiba-tiba berbunyi ditengah pembicaraan. Bisa menganggu dan membuat sulit berkonsentrasi, kan?


2. Kemampuan Berempati
Empati itu kita melihat dengan kacamata orang lain, bukan langsung menjudgment. Kita ikut merasakan dan memahami apa yang sedang dirasakan klien (tukar posisi). Disini, kita juga bisa turut sedih ketika klien kita menceritakan masalahnya. Tapi, jangan berlebihan dan jangan sampai kita yang lebih sedih sambil menangis, sedangkan klien kita tidak sampai menangis. Itu bahaya. Kunci utama dari empati adalah selalu fokus dengan klien sepanjang waktu. Empati juga bisa dengan sikap nonverbal seperti kontak mata, senyum, mengangguk kepala sebagai tanda mendengar. MENDENGAR dulu baru bisa MENGERTI, MENGERTI dulu baru bisa MEMAHAMI, dan MEMAHAMI dahulu baru kemudian MEMBERIKAN JALAN KELUAR (SOLUSI).
      
            



3. Attending Behavior
Kunci utamanya adalah untuk mengurangi kuantitas berbicara dan memberikan waktu pada klien untuk menceritakan tentang diri mereka. Attending akan lebih gampang jika kita lebih fokus ke klien daripada ke diri kita sendiri. Ada empat dimensi  dalam attending behavior, rumusnya 3V+1B, yaitu visual (menatap klien dan jangan mengalihkan pandangan), kualitas vokal (berbicara dengan nada yang tidak terlalu tinggi atau rendah, dan tidak berbicara terlalu cepat atau terlalu lamban), verbal tracking (tidak mengubah topik pembicaraan), dan body language (bersikap atentif dan autentik, apa adanya dan tidak berlebihan).

                    


4. Teknik Bertanya
Dalam bertanya, hindari kata “kenapa, mengapa” karena akan membuat klien merasa dalam posisi yang salah. Kata kenapa dapat diganti misal dengan “apa yang terjadi”. Disamping itu, ketika bertanya dengan klien yang sulit bicara, jangan memaksa klien untuk bicara karena bisa membuat klien merasa terganggu. Dalam teknik bertanya terdapat dua jenis pertanyaan, yaitu open question dan closed questionOpen question adalah jenis pertanyaan yang yang membebaskan klien untuk mengekspresikan perasaannya. Closed question adalah pertanyaan yang mengarahkan pada jawaban klien, biasanya pendek dan terbatas seperti ya atau tidak serta pertanyaan tertutup ini biasanya digunakan oleh psikolog ketika menjelang diagnosa. 


 5. Keterampilan Observasi
Wawancara tidak bisa dipisahkan dengan yang namanya observasi karena saat wawancara kita juga perlu fokus dan memperhatikan ekspresi wajah serta bahasa tubuh klien. Tapi, tidak membuat stereotype saat mengobservasi. Selain itu, saat melakukan observasi, kita juga harus jeli dan peka pada setiap kata dan kalimat yang diucapkan klien, karena setiap hal yang keluar dari mulut klien adalah sebuah kata kunci. Mungkin saja itu adalah jawaban dari yang kita cari.


6. Active listening
Seorang psikolog harus mampu mendengarkan secara aktif, suka atau tidak mengenai hal yang akan dibicarakan, serta harus mampu membuat kesimpulan dan solusi dari masalah yang disampaikan klien. Kemampuan ini juga dibagi dalam 4 hal yang perlu diketahui, yaitu:

a.    Encouraging
Digunakan untuk memancing orang yang diwawancara untuk berbicara. Ada 3 cara yaitu probing (gali informasi yang telah klien kemukakan), non verbal encourages ( beri orang yang diwawancara kesempatan untuk menghayati perasaannya, namun jangan terlalu lama); yang terakhir adalah verbal encourages (ulangi kata terakhir yang orang tersebut ucapkan dengan nada yang berbeda, namun jangan terlalu sering digunakan karena bisa mengganggu).

b.    Paraphrasing n reflection of feelings
Paraphrasing fokusnya pada isi dan klarifikasi apa yang dibicarakan sehingga klien tahu bahwa kita mendengarkan ceritanya dengan jelas. Refleksi perasaan klien dapat dilakukan dengan mengidentifikasi emosi klien dan menanggapinya untuk mengklarifikasi emosi tersebut. Refleksi perasaan sering dikombinasikan dengan parafrase dan rangkuman (summarizing), yaitu kesimpulan dari satu sesi wawancara. Biasanya, ringkasan ini digunakan untuk mengakhiri wawancara, memulai topik baru, dan mengklarifikasi isu.

c.    Parroting
Mengulang kembali apa yang dikatakan oleh klien cukup baik untuk lebih memperjelas maksud dan arti dari yang telah disampaikan. Namun, terlalu banyak dan sering mengulang kata klien bukannya mendapatkan data, melainkan mendapatkan pandangan negatif dari klien. Klien merasa terganggu dan tidak nyaman untuk menceritakan kembali masalahnya.
        


Seorang pendengar yang baik mencoba memahami sepenuhnya apa yang dikatakan orang lain. Pada akhirnya mungkin saja ia sangat tidak setuju, tetapi sebelum ia tidak setuju, ia ingin tahu dulu dengan tepat apa yang tidak disetujuinya."

(Kenneth A. Wells)