Kamis, 29 Mei 2014

Perjalanan itu dimulai dari satu langkah, dari sini..

Ibarat anak bayi, dia tidak mungkin langsung bisa berlari, dia pasti dilatih, diajari, dan dibimbing dulu oleh orangtua, dan itu dimulai dari sebuah langkah kecil. Awalnya dia pasti akan mencoba berdiri, mungkin dengan berkali-kali jatuh. Ketika sudah bisa berdiri, maka dia kan mulai melangkahkan kakinya dengan bantuan, baik itu dengan pegangan kedua tangan orangtua atau dia memegang barang yang tinggi, yang ada didekatnya sebagai pegangannya. Dia pasti akan berjalan dengan satu langkah yang kecil dan tertatih baru kemudian jalan dengan langkah yang bagus , itu adalah sebuah tahapan dan prosesnya.


Sama halnya seperti yang saya alami, dalam perjalanan saya untuk menjadi seorang psikolog (kelak.. AMIN), saya harus mulai dengan satu langkah. Sekecil apapun itu, semuanya adalah proses, itu sangat berarti dan dapat mempengaruhi untuk kedepannya. Dalam kelas ini, kelas C Teknik Wawancara, saya dan teman-teman saya semuanya diberikan kesempatan untuk praktikum ke lab. Mungkin ini adalah salah satu langkah kecil tersebut. Disini, kami semua akan mencoba mempraktekkan ilmu dan teori yang telah kami pelajari. Ini adalah pengalaman saya untuk pertama kalinya masuk ke ruang lab, dimana saya juga berperan untuk 3 posisi sesuai dengan tugas yang ditentukan. Peran saya tersebut adalah menjadi seorang psikolog, klien, dan observer. Ketiga peran itu dilakukan diwaktu dan dihari yang sama sesuai dengan setting yang ditentukan. Ini adalah langkah awal kami untuk MENCOBA SEBAGAI PSIKOLOG dengan lawan mainnya adalah TEMAN SENDIRI, bukan dengan KLIEN YANG ASLI. Mungkin tanpa adanya ini, kami semua takkan pernah mengetahui bagaimana gambaran yang sebenarnya, bagaimana rasanya teknik wawancara itu sendiri, yang kami ketahui mungkin hanya teorinya saja dan pemahaman seadanya saja.

Kelihatannya gampang dan mudah, tapi percayalah, saat anda pertama kalinya terjun kedalamnya secara langsung, anda pasti akan grogi, cemas, bingung, takut, dan mati kutu. Persis dengan apa yang saya alami pada saat itu. Pada hari itu, praktikum pertama dimulai untuk setting pendidikan, semua mahasiswa diwajibkan datang ke kampus tepat jam 8 pagi. Untuk setting PIO dan klinis dilakukan pada pertemuan selanjutnya. Kebetulan juga untuk pertama kalinya maju, kelompok kami langsung ditugaskan untuk memerankan sebagai psikolognya. Pada saat itu kelompok saya berjumlah 6 orang. Ada saya (Risma), Diva, Dwita, Jessica, Sinta, dan Tata. Dibandingkan dengan yang lainnya, kelompok kami berada pada kapasitas yang banyak. Ibarat mau kontes nyanyi , mungkin kelompok saya sudah bisa membentuk grup band seperti SNSD. Sayangnya ini bukan kelas bernyanyi atau kelas drama atau kelas berdemo, tapi kelas teknik wawncara.. Hehehe

Pada saat saya menjadi seorang psikolog pada bidang pendidikan, ruangan saya terpencar dari teman saya yang lainnya. Saya berada diruangan yang khusus, yang spesial, yang istimewa, yaitu diruangan pribadinya Ibu Henny. Ketika mengetahui bahwa saya diungsikan ketempat beliau, saya langsung terdiam sejenak sambil mencoba menenangkan diri saya. Saat itu yang menjadi klien saya adalah senior saya, Koko X, jadi disini koko tersebut harus memerankan dirinya sebagai anak SMA kelas 3 yang mengalami penurunan nilai setiap bulannya dilihat dari hasil raport bulannya. Rasanya bagaimana yah? Jujur, saya hampir saja lupa apa yang harus saya lakukan disana dan apa yang akan saya tanyakan. Untungnya saja, saya membawa sebuah kertas yang berisikan daftar-daftar pertanyaan. Tapi, jangan pikir juga kalau bertanya itu gampang, itu juga susah, harus pintar menyusun kata-kata dan kalimat sebelum itu dikeluarkan, jangan sampai klien sendiri jadi bingung dan tidak mengerti. Susah sekali ternyata menjadi seorang psikolog, apalagi ketika mendapatkan klien yang cuek juga, yang hanya menjawab seadanya, harus kerja ekstra untuk menggali datanya. Pengalaman saya yang pertama di setting pendidikan menjadi pelajaran untuk di setting PIO dan klinis. Alhasil, saat saya kembali menjadi psikolog untuk dibidang PIO dan klinis, saya jadi tidak terlalu canggung lagi. Benar kata peribahasa yang mengatakan “alah bisa karena biasa”, yang awalnya saya rasa itu susah dan saya kira tidak bisa, tapi ketika saya coba, lama-kelamaan jadi tidak terlalu canggung, intinya karena terbiasa.

Lain halnya dengan posisi KLIEN, kalau ini harus pandai MENGARANG (Untuk sementara saja maksudnya), tidak perlu sibuk memikirkan daftar pertanyaan yang akan ditanya. Disini, yang dilakukan adalah memberikan jawaban dari pertanyaan yang diberikan, memberikan gambaran, dan menceritakan semua hal yang ditanyakan pada kita agar si pewawancara dapat memperoleh data dan informasi yang banyak mengenai diri kita. Jika suka berimajinasi, posisi “klien” inilah kesempatan terbuka untuk hal itu.

Terakhir, saat saya menjadi seorang OBSERVER, saya mencoba MEMAHAMI dan MENGAMATI apa yang sedang dilakukan PSIKOLOG dengan KLIENNYA. Hal yang perlu dilihat adalah bahasa tubuhnya, seperti apa mimik muka, gerakan tangan, pandangan mata, posisi badan, dan gerak-gerik lainnya. Semua harus dilihat secara detail dan keseluruhan. Disini itu WOW, karena “hanya kita” yang bisa melihat bagaimana “mereka” yang berada didalam ruangan, sedangkan “mereka sendiri” tidak bisa mengamati “kita”. Saya juga kaget sekali ketika mengetahui hal yang sebenarnya itu.


Seru, asik, dan menyenangkan berada diruangan ini. Banyak pengalaman dan pelajaran yang tidak akan saya lupakan, terlebih diruang lab. Terimakasih untuk dosen saya Ibu Henny dan Ci Tasya, dikelas C teknik wawancara ini saya sudah memiliki banyak kesempatan berharga yang akan ingat dan kelak akan saya terapkan, terimakasih atas waktu, bimbingan, dan ilmu yang sudah diberikan. Terimakasih juga untuk teman kelompok saya atas semua bantuannya selama satu semester. Semangat yah teman, LANGKAH KITA TINGGAL SEBENTAR LAGI, mari kobarkan semangat juang untuk tugas UAS, semoga kita SEMUA LULUS. Mari bangkit, mari semangat. “SATU LANGKAH YANG SUDAH KAMU AMBIL” itu adalah sebuah “KUNCI”. Jadi, lakukan yang terbaik.


Kamis, 01 Mei 2014

Masalah?!

Masalah.. 

Masalah.. 
Masalah..


Dalam hidup kita selalu dipertemukan dan diperhadapkan sama yang namanya masalah. Terkadang, kita merasa masalah itu selalu datang disaat yang tidak tepat dan tidak pernah ada habisnya. Yah, saya adalah satu orang yang PALING SERING mengalami yang namanya masalah. Seperti yang lainnya, saya juga tidak kuat menghadapi masalah saya, saya sering menangis, dan ingin lari saja dari masalah itu.

Carl Jung salah satu tokoh yang ada didalam dunia psikologi juga pernah mengatakan bahwa manusia adalah topeng. Itu benar. Seperti saya, benar bahwa saya memang bisa berpura-pura bahagia, tertawa, dan tersenyum didepan teman-teman saya saat dikampus atau dimana pun saya berada, saya akan berusaha semaksimal mungkin menutupi kesedihan yang ada. Tapi, itu semua tidak permanen, ketika saya sudah dirumah, dikamar tecinta, bayangan itu pasti akan muncul kembali, pasti saya tiba-tiba teringat akan masalah saya tersebut dan mau tidak mau saya harus kembali kedunia nyata saya bahwa saya adalah orang yang memiliki masalah. 

Apapun yang dikatakan orang mengenai dirimu, lupakan saja, abaikan!! Masukkan ketelinga kanan dan keluarkan dari telinga kiri, jangan biarkan berhenti didalam telinga. Segala omongan dan ucapan yang tidak membangun, jadikan itu acuan untuk membuktikan padanya bahwa diri kita itu tidak seburuk dan sejelek yang dia katakan. Tunjukkan pada dirinya dia itu salah dan kita bahkan bisa menjadi yang lebih baik. Memang sekarang mereka memandang diri kita rendah, tapi suatu saat nanti mereka akan bangga dan salut pada kita.

Kabur?
Pernah, sering sekali. Tapi ujung-ujungnya apa? Saya tetap terjebak dan saya pasti bertemu lagi dengan si masalah itu. Susah, sangat susah sekali jika ingin lari, karena itu tadi, masalah itu bukan untuk dihindari, tapi harus dihadapi. Semakin kita lari, pasti kita akan terus dikejar. Bukan hanya itu, pikiran kita juga jadi terganggu dan kita akan sulit konsentrasi dengan aktivitas kita yang lainnya.

Sekuat-kuatnya dan setegar-tegarnya orang, pasti dia juga punya sisi kelemahan, dia punya batasan. Ada dimana dia jenuh dengan semuanya, rasanya ingin berteriak dan berharap dia bisa hilang ingatan. Masalah yang ada bisa berdampak menjadi 2 hal, ada positif dan negatifnya. Positifnya jika kita bisa dan kita yakin, kita pasti akan tumbuh menjadi orang yang kuat, kita jadi pribadi yang dibaharui yang lebih baik lagi. Negatifnya, jika sudah tidak kuat dan lemah, maka bisa menjadi gila dan buat orang jadi stres atau frustasi. Mulai timbul perasaan takut dan tertekan, takut untuk menghadapi semuanya dan mau bunuh diri saja.

Satu hal yang saya percaya sampai sekarang bahwa semuanya akan berakhir dengan BAHAGIA. Mungkin bukan hari ini, bukan sekarang, tapi nanti, diwaktunya TUHAN, diwaktu yang tepat. Walaupun saya sering menangis dan merasa tidak sanggup, tapi saya harus menghadapi semua ini, saya percaya saya pasti bisa dan saya ingat janji itu. Tuhan mengijinkan masalah itu datang untuk menegur kita, untuk membentuk kita menjadi pribadinya Tuhan, lebih dekat lagi dengannya. Masalah itu sebenarnya sesuai dengan kemampuan kita dan sebenarnya kita bisa, cuma kita terkadang sudah merasa kita TIDAK MAMPU dan TIDAK KUAT lagi, padahal kita belum mencobanya sama sekali, adapun mencoba, tapi itu baru setengah tidak maksimal. Bagaimana mungkin kita bisa mengetahui diri kita itu siapa jika kita sendiri tidak mengetahuinya dan kita tidak pernah menggali itu.


Sekarang, ketika saya ada masalah dan saya merasa itu susah, saya pasti akan berdoa dan minta petunjuk sama Tuhan. Seperti ada lagunya, DIA itu hanya SEJAUH DOA. Cepat atau lambat badai itu pasti akan berlalu dan berganti dengan senyuman indah seperti warna pelangi. Intinya semuanya itu dimulai dari kita sendiri. Kita yang dapat mengubah dan mengatasi masalah kita, bukan orang lain. Orang lain hanya bisa mendengarkan masalah dan memberikan sedikit pencerahan atau solusi, tapi yang bertindak, yang melakukan semuanya itu adalah diri kita sendiri, baik dan buruknya itu adalah pilihan, itu ada ditanganmu.