Rabu, 15 November 2017

Sudahkah Kamu Membuang Sampahmu Pada Tempatnya?

Buanglah sampai pada tempatnya”, ungkapan yang sering kita baca dan dengar, bukan?

Untuk melakukannya sih sepertinya mudah. Tapi, kenyataannya susah. Kenapa? Karena tetap saja ada yang membuang sampah di sembarang tempat.

Saya bukan orang yang bersih dan rapi. Tapi, saya paling tidak suka melihat orang yang membuang sampahnya di sembarang tempat. Apalagi, jika orang tersebut dengan sengaja membiarkan sampah makanannya tergeletak begitu saja. Apa salahnya coba membuang sampahnya ke tempat sampah?
Jauh?
Memang gak ada tempatnya..
Gak lihat ada tempat sampah?
Gak biasa buang sampah?
... ... ....
Berbagai macam alasan diungkapkan untuk melakukan penyangkalan dan membela diri sendiri. Padahal, yang sebenarnya itu adalah MALAS. Tidak ada niat saja untuk memang buang sampah tersebut. Gak percaya? Coba, kita mengintrospeksi diri sendiri.

Terkadang, saya juga demikian. Terbawa suasana nongkrong, sampai bungkusan minuman ditinggal begitu saja. Kalau kamu gimana? Sadarkah kamu kalau juga sering melakukannya?



Seperti halnya menongkrong disuatu tempat bersama teman. Saking asyiknya mengobrol dan bernyanyi bersama,  sampah pun ditinggal begitu saja saat bubar. Begitupula, saat nongkrong disalah satu tempat makanan cepat saji. Sudah tahu bahwa tempatnya selalu ramai pengunjung, apa salahnya coba untuk merapikan piring atau menggabungkan tempat makananmu sendiri menjadi satu? Dengan demikian, pekerjanya juga dapat langsung mengambil baki makananmu. Dan baiknya, pengunjung selanjutnya dapat langsung makan dengan tenang ditempat kamu. Coba, bayangkan jika kamu sebagai pengunjung selanjutnya, saat berada dimeja makan tersebut kamu melihat tempat makanan dan minumannya berantakan, pasti kamu langsung mengatakan bahwa orang sebelumnya jorok bukan? Sama halnya, saat kamu nongkrong ditempat cafe atau minuman. Dimana kamu suka dikasih tempat minumannya plastik dan dapat kamu bawa ke rumah. Tapi, kamu memilih untuk nongkrong sejenak ditempat tersebut dan saat minuman kamu sudah habis, kamu meninggalkannya disana dengan pemikiran toh nanti dibersihkan atau ada yang ambil. Iya, benar sih. Tapi, kembali lagi, apa salah coba kamu turut membawa bungkus minuman kamu yang kosong tersebut. Toh, kamu melewati tempat sampah bukan? Bukanlah lebih cepat dan efisien tidak merepotkan orang lain.


Pernahkah kamu respect dan peduli dengan hal-hal kecil yang ada disekitarmu?
Kalau iya, kenapa kamu tidak respect dengan satu hal yang ini?

Atau masih berpikir bahwa karena itu bukanlah tugasmu dan masih ada pemikiran bahwa pasti ada orang lain yang akan mengerjakannya? Mau sampai kapan? Kamu sendiri tidak malu dengan perbuatanmu?

Kelak, kamu akan berkeluarga. Kalau sampahmu sendiri saja tidak bisa kamu urus, bagaimana yang lainnya? Mau berharap pembantu? Tidakkah kamu tahu bahwa kerjaannya banyak dan ada yang jauh lebih penting untuk diurusnya selain sampahmu sendiri?

Pernahkah berada diposisinya?

Menyapu dan mengepel lantai rumah, menyusun dan merapikan barang-barang yang berantakan, menyuci dan menyetrika pakaian, memasak dan mencuci piring, dan sebagainya. Belum lagi dengan membuang dan membersihkan sampahmu. Tega? Ayolah, bantu dia meringankan kerjaannya. Sederhana, dengan tidak membuat kerjaannya semakin banyak. Buanglah sampahmu ditempatnya. Begitupula saat makan, taruhlah piring dan gelas kotormu pada tempatnya. Jangan ditinggalkan begitu saja di meja makan. Sulitkah? Atay mudah dan tidak terlalu sulit kan?

Mari, hidup bersih!

Bukankah kamu menginginkan tempat yang bersih, sehat, dan ramah lingkungan? 

Mulailah dari hal kecil tersebut dirumah terlebih dahulu, dengan begitu akan terbawa ke luar. Jadi, saat kamu berada diluar, kamu tidak akan sembarangan membuang sampahmu. Apalagi sampai tega meninggalkan sampahmu sendiri di meja atau bahkan dilantai begitu saja. Mungkin susah, bahkan sulit. Tapi, kalau kamu mau berusaha pasti bisa. Dengan berjalannya waktu, orang lain akan belajar lewat perilaku yang kamu lakukan.

Kalau tetap masih ada orang yang tidak berubah padahal mereka melihat perlakumu, kutiplah sampah mereka dan buanglah pada tempatnya. Agar mereka malu dengan perbuatan mereka sendiri. Perubahan tidak dimulai dari orang lain loh, dimulai dari diri sendiri. Jika kamu sudah berada dijalan benar, maka orang lain pun akan sendirinya meniru perilakumu. Jadi, berdampak positif bagi orang lain, ya!


Selasa, 03 Juni 2014

Panti Ini Pun Menyadarkanku. Gak Percaya? Yuk, berkunjung!

Pada tanggal 02 Juni 2014, saya memiliki pengalaman yang baru dan suatu pembelajaran yang menurut saya itu sangat berharga untuk diri saya. Saya dan keempat teman saya berkunjung ke salah satu panti asuhan yang ada didaerah Kota Bumi, Tangerang. Kedatangan kami ke panti tersebut adalah untuk memenuhi tugas akhir dalam mata kuliah Teknik Wawancara.

Jarak tempuh dari kampus saya ke lokasi sebenarnya tidak terlalu jauh. Hanya saja karena saya dan teman saya (Diva) salah jalan, alhasil jarak tempuh yang sebenarnya hanya 1,5 jam menjadi 4 jam karena kami salah rute perjalanan. Kami baru tiba dilokasi pada pukul jam 3 siang. Sebelum menuju panti, saya dan Diva berhenti di persimpangan jalan untuk menunggu Ka Wenny, Tata, dan Sinta untuk bersama-sama menuju panti tersebut.

Selama diperjalanan, saya melihat pemandangan yang ada sekitar saya, tempat ini berhasil mengingatkan saya akan kampung saya yang di Toba.  Di Toba, banyak pohon-pohon dan sawah di sisi-sisi jalan, sama seperti tempat ini. Selain itu, karena tempat panti saya ini berada di pedalaman Kota Bumi nya, udara ditempat ini juga lumayan sejuk dan jauh dari keramaian, suasanya seperti lagi didesa. Rasanya, saya ingin segera ke Medan dan berencana ingin langsung ke Toba, sekalian melihat pemandangan yang ada di Danau Toba.

Singkat cerita, saya dan keempat teman saya tiba juga ditempat lokasi. Namun, untuk menuju rumah panti tersebut, kami harus menyeberang jalan yang ada disana dengan bambu. Cukup panik dan lumayan takut untuk berjalan diatas bambu karena ini pengalaman pertama saya. Setelah saya melewati bambu-bambu itu, saya memperhatikan Tata dan Sinta yang akan menyeberang. Yang paling takut diantara kami adalah Tata, karena Tata memiliki badan yang cukup besar dibandingkan dengan kami semua. Jadi, hendak berjalan, dia takut kalau bambunya akan patah karena menanggung berat badannya.  

Setibanya ditempat, kami disambut dengan Ibu pengurus dan beberapa anak yang ada dipanti. Ketika mereka melihat kami, anak-anak tersebut langsung menghampiri kami dan memberikan salam pada kami. Tidak banyak hal yang dapat saya jelaskan bagaimana perasaan saya disana. Tidak dapat dijelaskan dengan semua kata-kata yang saya tulis disini. Saya melihat mereka dengan keadaan mereka yang menurut saya cukup prihatan, tapi mereka tidak menunjukkan kesedihan itu, mereka bahkan banyak tersenyum dan tertawa, serasa mereka tidak ada masalah. Semua kelihatan sangat bahagia dan ceria karena saya lihat mereka saling bermain dan berinteraksi.

Disinilah dimulai, setelah berbincang-bincang sebentar dan turut serta dalam kegiatan mereka, kami mulai melakukan wawancara cengan subyek masing-masing yang sudah disediakan. Saya sendiri mendapatkan seorang subyek perempuan, sebut saja namanya Tiwi. Saat ini usia subyek berumur 12 tahun dan duduk dibangku kelas 6 SD. Subyek merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Selama melakukan proses tanya-jawab, saya sangat sedih mendengarkan kisah kehidupannya. Subyek saya sudah tidak memiliki orangtua, keduanya meninggal saat usia subyek masih kecil. Subyek bercerita bahwa yang pertama kali pergi meninggalkannya adalah papanya, kemudian tidak lama kemudian mamanya yang pergi. Subyek sendiri asalnya dari Jawa. Semenjak mamanya tiada, subyek diasuh oleh sang Nenek. Hingga saat subyek menginjakkan kaki di bangku kelas 2 SD, Bibi subyek membawanya ke Jakarta dan langsung memasukkannya ke panti asuhan ini tanpa memberikan alasan ataupun meninggalkan pesan.  Subyek ditinggalkan di Panti seorang diri, seperti diasingkan dan dicampakkan begitu saja oleh keluarganya sendiri. Ditengah wawancara, subyek juga tidak terlalu banyak mau berbicara dan lebih banyak mengeluarkan airmata. Saya juga tidak tega untuk menanyakan lebih lanjut, saya memutuskan untuk berhenti sejenak dan menghibur dia. Kemudian, ketika dia sudah mendingan, saya mulai melanjutkan wawancara. Tiba-tiba, saat saya menyinggung mengenai saudaranya, subyek hanya bisa menggelengkan kepala dan mulai menangis kembali. Hal itu cukup memberikan suatu jawaban bahwa subyek tidak mengetahui keberadaan kedua saudaranya. Subyek saya juga tidak pernah menceritakan masalah keluarganya atau masalah pribadi lainnya kepada temannya atau pengurus panti. Jika dia ada masalah, dia akan memendamnya seorang diri dan menutupnya rapat-rapat.


Satu hal yang saya ingat dari subyek saya, dia punya cita-cita yang sangat mulia. Dia ingin menjadi dokter, dia ingin menolong orang. Saya terharu mendengarkan kata-katanya saat dia mengatakan hal tersebut pada saya. Setelah wawancara selesai, saya tidak langsung meninggalkannya, saya masih berbincang-bincang dengannya. Saya memberikannya semangat, saya masih menghiburnya, membuatnya tersenyum. Saya ingat pesan dan kata-kata saya, saya mengatakan bahwa memang sekarang keadaannya begini, papa-mama sudah tiada, tapi kamu harus bangkit.. Kamu tidak sendiri, lihat diluar sana, kamu punya banyak teman dan yang lainnya yang sayang sama kamu.. kakak percaya kamu bisa hadapi semuanya.. Jangan sedih lagi yah, dek.. Berbagilah sedih dengan orang yang dapat kamu percayakan, bisa dengan ibu panti atau sahabat kamu tadi, dek.. Kamu harus percaya kalau Tuhan pasti akan kasih jawaban dan kasih jalan, jangan lupa berdoa yah, dek.. Semangat yah...!!!

Satu sisi saya bangga dengan subyek saya karena dia cukup tegar dan sabar dengan semuanya. Dia hebat karena dia tidak menunjukkan kesedihannya didepan banyak orang. Sisi lain, saya prihatin dan cukup sedih dengan dia karena dia anak yang sangat tertutup dan memendamkan semua masalah seorang diri. Dari pengalaman saya dipanti asuhan ini, saya belajar banyak hal untuk semakin mensyukuri apa yang masih saya miliki sampai sekarang. Meskipun mama saya sudah tiada, tapi saya masih memiliki seorang Bapak yang sangat sayang pada saya dan memberikan perhatian sepenuhnya pada kami juga, anak-anaknya. Saya beruntung masih memiliki keluarga, teman, dan masih berada diantara orang-orang yang memberikan kasih sayangnya pada saya. Saya juga sangat beruntung masih bisa hidup sampai sekarang, bisa makan, minum, dan jalan-jalan dengan sepuasnya. Saya juga punya tempat tinggal yang layak dan saya masih sehat sampai sekarang, saya sempurna. Terimakasih sudah menyadarkan saya, terimakasih atas pelajaran yang saya peroleh melalui kehidupan kalian, kalian sudah membuka mata hati saya. Terimakasih untuk semuanya.. Terimakasih.. Terimakasih Tuhan Yesus..



Kamis, 29 Mei 2014

Perjalanan itu dimulai dari satu langkah, dari sini..

Ibarat anak bayi, dia tidak mungkin langsung bisa berlari, dia pasti dilatih, diajari, dan dibimbing dulu oleh orangtua, dan itu dimulai dari sebuah langkah kecil. Awalnya dia pasti akan mencoba berdiri, mungkin dengan berkali-kali jatuh. Ketika sudah bisa berdiri, maka dia kan mulai melangkahkan kakinya dengan bantuan, baik itu dengan pegangan kedua tangan orangtua atau dia memegang barang yang tinggi, yang ada didekatnya sebagai pegangannya. Dia pasti akan berjalan dengan satu langkah yang kecil dan tertatih baru kemudian jalan dengan langkah yang bagus , itu adalah sebuah tahapan dan prosesnya.


Sama halnya seperti yang saya alami, dalam perjalanan saya untuk menjadi seorang psikolog (kelak.. AMIN), saya harus mulai dengan satu langkah. Sekecil apapun itu, semuanya adalah proses, itu sangat berarti dan dapat mempengaruhi untuk kedepannya. Dalam kelas ini, kelas C Teknik Wawancara, saya dan teman-teman saya semuanya diberikan kesempatan untuk praktikum ke lab. Mungkin ini adalah salah satu langkah kecil tersebut. Disini, kami semua akan mencoba mempraktekkan ilmu dan teori yang telah kami pelajari. Ini adalah pengalaman saya untuk pertama kalinya masuk ke ruang lab, dimana saya juga berperan untuk 3 posisi sesuai dengan tugas yang ditentukan. Peran saya tersebut adalah menjadi seorang psikolog, klien, dan observer. Ketiga peran itu dilakukan diwaktu dan dihari yang sama sesuai dengan setting yang ditentukan. Ini adalah langkah awal kami untuk MENCOBA SEBAGAI PSIKOLOG dengan lawan mainnya adalah TEMAN SENDIRI, bukan dengan KLIEN YANG ASLI. Mungkin tanpa adanya ini, kami semua takkan pernah mengetahui bagaimana gambaran yang sebenarnya, bagaimana rasanya teknik wawancara itu sendiri, yang kami ketahui mungkin hanya teorinya saja dan pemahaman seadanya saja.

Kelihatannya gampang dan mudah, tapi percayalah, saat anda pertama kalinya terjun kedalamnya secara langsung, anda pasti akan grogi, cemas, bingung, takut, dan mati kutu. Persis dengan apa yang saya alami pada saat itu. Pada hari itu, praktikum pertama dimulai untuk setting pendidikan, semua mahasiswa diwajibkan datang ke kampus tepat jam 8 pagi. Untuk setting PIO dan klinis dilakukan pada pertemuan selanjutnya. Kebetulan juga untuk pertama kalinya maju, kelompok kami langsung ditugaskan untuk memerankan sebagai psikolognya. Pada saat itu kelompok saya berjumlah 6 orang. Ada saya (Risma), Diva, Dwita, Jessica, Sinta, dan Tata. Dibandingkan dengan yang lainnya, kelompok kami berada pada kapasitas yang banyak. Ibarat mau kontes nyanyi , mungkin kelompok saya sudah bisa membentuk grup band seperti SNSD. Sayangnya ini bukan kelas bernyanyi atau kelas drama atau kelas berdemo, tapi kelas teknik wawncara.. Hehehe

Pada saat saya menjadi seorang psikolog pada bidang pendidikan, ruangan saya terpencar dari teman saya yang lainnya. Saya berada diruangan yang khusus, yang spesial, yang istimewa, yaitu diruangan pribadinya Ibu Henny. Ketika mengetahui bahwa saya diungsikan ketempat beliau, saya langsung terdiam sejenak sambil mencoba menenangkan diri saya. Saat itu yang menjadi klien saya adalah senior saya, Koko X, jadi disini koko tersebut harus memerankan dirinya sebagai anak SMA kelas 3 yang mengalami penurunan nilai setiap bulannya dilihat dari hasil raport bulannya. Rasanya bagaimana yah? Jujur, saya hampir saja lupa apa yang harus saya lakukan disana dan apa yang akan saya tanyakan. Untungnya saja, saya membawa sebuah kertas yang berisikan daftar-daftar pertanyaan. Tapi, jangan pikir juga kalau bertanya itu gampang, itu juga susah, harus pintar menyusun kata-kata dan kalimat sebelum itu dikeluarkan, jangan sampai klien sendiri jadi bingung dan tidak mengerti. Susah sekali ternyata menjadi seorang psikolog, apalagi ketika mendapatkan klien yang cuek juga, yang hanya menjawab seadanya, harus kerja ekstra untuk menggali datanya. Pengalaman saya yang pertama di setting pendidikan menjadi pelajaran untuk di setting PIO dan klinis. Alhasil, saat saya kembali menjadi psikolog untuk dibidang PIO dan klinis, saya jadi tidak terlalu canggung lagi. Benar kata peribahasa yang mengatakan “alah bisa karena biasa”, yang awalnya saya rasa itu susah dan saya kira tidak bisa, tapi ketika saya coba, lama-kelamaan jadi tidak terlalu canggung, intinya karena terbiasa.

Lain halnya dengan posisi KLIEN, kalau ini harus pandai MENGARANG (Untuk sementara saja maksudnya), tidak perlu sibuk memikirkan daftar pertanyaan yang akan ditanya. Disini, yang dilakukan adalah memberikan jawaban dari pertanyaan yang diberikan, memberikan gambaran, dan menceritakan semua hal yang ditanyakan pada kita agar si pewawancara dapat memperoleh data dan informasi yang banyak mengenai diri kita. Jika suka berimajinasi, posisi “klien” inilah kesempatan terbuka untuk hal itu.

Terakhir, saat saya menjadi seorang OBSERVER, saya mencoba MEMAHAMI dan MENGAMATI apa yang sedang dilakukan PSIKOLOG dengan KLIENNYA. Hal yang perlu dilihat adalah bahasa tubuhnya, seperti apa mimik muka, gerakan tangan, pandangan mata, posisi badan, dan gerak-gerik lainnya. Semua harus dilihat secara detail dan keseluruhan. Disini itu WOW, karena “hanya kita” yang bisa melihat bagaimana “mereka” yang berada didalam ruangan, sedangkan “mereka sendiri” tidak bisa mengamati “kita”. Saya juga kaget sekali ketika mengetahui hal yang sebenarnya itu.


Seru, asik, dan menyenangkan berada diruangan ini. Banyak pengalaman dan pelajaran yang tidak akan saya lupakan, terlebih diruang lab. Terimakasih untuk dosen saya Ibu Henny dan Ci Tasya, dikelas C teknik wawancara ini saya sudah memiliki banyak kesempatan berharga yang akan ingat dan kelak akan saya terapkan, terimakasih atas waktu, bimbingan, dan ilmu yang sudah diberikan. Terimakasih juga untuk teman kelompok saya atas semua bantuannya selama satu semester. Semangat yah teman, LANGKAH KITA TINGGAL SEBENTAR LAGI, mari kobarkan semangat juang untuk tugas UAS, semoga kita SEMUA LULUS. Mari bangkit, mari semangat. “SATU LANGKAH YANG SUDAH KAMU AMBIL” itu adalah sebuah “KUNCI”. Jadi, lakukan yang terbaik.


Kamis, 01 Mei 2014

Masalah?!

Masalah.. 

Masalah.. 
Masalah..


Dalam hidup kita selalu dipertemukan dan diperhadapkan sama yang namanya masalah. Terkadang, kita merasa masalah itu selalu datang disaat yang tidak tepat dan tidak pernah ada habisnya. Yah, saya adalah satu orang yang PALING SERING mengalami yang namanya masalah. Seperti yang lainnya, saya juga tidak kuat menghadapi masalah saya, saya sering menangis, dan ingin lari saja dari masalah itu.

Carl Jung salah satu tokoh yang ada didalam dunia psikologi juga pernah mengatakan bahwa manusia adalah topeng. Itu benar. Seperti saya, benar bahwa saya memang bisa berpura-pura bahagia, tertawa, dan tersenyum didepan teman-teman saya saat dikampus atau dimana pun saya berada, saya akan berusaha semaksimal mungkin menutupi kesedihan yang ada. Tapi, itu semua tidak permanen, ketika saya sudah dirumah, dikamar tecinta, bayangan itu pasti akan muncul kembali, pasti saya tiba-tiba teringat akan masalah saya tersebut dan mau tidak mau saya harus kembali kedunia nyata saya bahwa saya adalah orang yang memiliki masalah. 

Apapun yang dikatakan orang mengenai dirimu, lupakan saja, abaikan!! Masukkan ketelinga kanan dan keluarkan dari telinga kiri, jangan biarkan berhenti didalam telinga. Segala omongan dan ucapan yang tidak membangun, jadikan itu acuan untuk membuktikan padanya bahwa diri kita itu tidak seburuk dan sejelek yang dia katakan. Tunjukkan pada dirinya dia itu salah dan kita bahkan bisa menjadi yang lebih baik. Memang sekarang mereka memandang diri kita rendah, tapi suatu saat nanti mereka akan bangga dan salut pada kita.

Kabur?
Pernah, sering sekali. Tapi ujung-ujungnya apa? Saya tetap terjebak dan saya pasti bertemu lagi dengan si masalah itu. Susah, sangat susah sekali jika ingin lari, karena itu tadi, masalah itu bukan untuk dihindari, tapi harus dihadapi. Semakin kita lari, pasti kita akan terus dikejar. Bukan hanya itu, pikiran kita juga jadi terganggu dan kita akan sulit konsentrasi dengan aktivitas kita yang lainnya.

Sekuat-kuatnya dan setegar-tegarnya orang, pasti dia juga punya sisi kelemahan, dia punya batasan. Ada dimana dia jenuh dengan semuanya, rasanya ingin berteriak dan berharap dia bisa hilang ingatan. Masalah yang ada bisa berdampak menjadi 2 hal, ada positif dan negatifnya. Positifnya jika kita bisa dan kita yakin, kita pasti akan tumbuh menjadi orang yang kuat, kita jadi pribadi yang dibaharui yang lebih baik lagi. Negatifnya, jika sudah tidak kuat dan lemah, maka bisa menjadi gila dan buat orang jadi stres atau frustasi. Mulai timbul perasaan takut dan tertekan, takut untuk menghadapi semuanya dan mau bunuh diri saja.

Satu hal yang saya percaya sampai sekarang bahwa semuanya akan berakhir dengan BAHAGIA. Mungkin bukan hari ini, bukan sekarang, tapi nanti, diwaktunya TUHAN, diwaktu yang tepat. Walaupun saya sering menangis dan merasa tidak sanggup, tapi saya harus menghadapi semua ini, saya percaya saya pasti bisa dan saya ingat janji itu. Tuhan mengijinkan masalah itu datang untuk menegur kita, untuk membentuk kita menjadi pribadinya Tuhan, lebih dekat lagi dengannya. Masalah itu sebenarnya sesuai dengan kemampuan kita dan sebenarnya kita bisa, cuma kita terkadang sudah merasa kita TIDAK MAMPU dan TIDAK KUAT lagi, padahal kita belum mencobanya sama sekali, adapun mencoba, tapi itu baru setengah tidak maksimal. Bagaimana mungkin kita bisa mengetahui diri kita itu siapa jika kita sendiri tidak mengetahuinya dan kita tidak pernah menggali itu.


Sekarang, ketika saya ada masalah dan saya merasa itu susah, saya pasti akan berdoa dan minta petunjuk sama Tuhan. Seperti ada lagunya, DIA itu hanya SEJAUH DOA. Cepat atau lambat badai itu pasti akan berlalu dan berganti dengan senyuman indah seperti warna pelangi. Intinya semuanya itu dimulai dari kita sendiri. Kita yang dapat mengubah dan mengatasi masalah kita, bukan orang lain. Orang lain hanya bisa mendengarkan masalah dan memberikan sedikit pencerahan atau solusi, tapi yang bertindak, yang melakukan semuanya itu adalah diri kita sendiri, baik dan buruknya itu adalah pilihan, itu ada ditanganmu. 

Selasa, 29 April 2014

Kita ADA karena MEREKA dan kita juga BELAJAR dari KEHIDUPAN MEREKA

Banyak orang yang sudah merasa hebat dan lebih tinggi lagi dari oranglain ketika berada dikedudukan yang tinggi. Posisi yang tinggi terkadang membutakan mata banyak orang dan membuat orang menjadi lupa akan segala hal. Yang dipikirkan hanya kehormatan, kekeyaan, dan hidup yang makmur tanpa memikirkan bagaimana orang yang disekitarnya. Dia lupa bahwa ada yang lebih penting lagi dan itu tidak dapat dibeli dengan uang, yaitu KEBAHAGIAN.

Banyak kita jumpai seseorang yang berasal dari keluarga yang kaya dan cukup mapan, kenyataannya mereka tidak bahagia, yang dirasakan adalah kesepian. Tidak punya waktu yang banyak untuk menghabiskan waktu dengan keluarga tercinta. Semua pada sibuk mengerjakan kerjaannya masing-masing. Bahkan, mereka sampai lupa kalau ada keluarga yang sudah menantinya dirumah. Ada juga dari keluarga yang dari kalangan bawah. Memang secara materi mereka kurang, tapi mereka punya cinta. Mereka punya kasih dan peduli antar satu sama lain. Punya waktu kebersamaan yang lebih banyak. Dan mereka juga bisa memahami bagaimana keadaan mereka yang sebenarnya, mereka sadar siapa diri mereka dan mereka juga tahu dimana posisi mereka.


Satu hal yang perlu kita tahu. Kita ADA sampai saat ini itu karena MEREKA, orang-orang yang ada disekeliling kita. Terutama keluarga, lalu teman, dan sekitarnya. Contohnya, saat kita terjatuh dan kita merasa sudah tidak sanggup lagi untuk menghadapi semua masalah, pasti ada seseorang yang memegang tangan kita untuk bangkit, mungkin itu orangtua, teman, saudara, atau bahkan itu adalah guru atau dosen kita. Dia yang memberikan kita semangat dan keyakinan kepada kita bahwa kita itu bisa. Kita juga pasti pernah merasakan ketakutan dan pernah mengatakan bahwa itu SUSAH, tapi kenyataannya, ada orang yang memberitahukan kita bahwa itu tidaklah sesulit yang kita pikirkan, bahkan mereka juga tidak segan-segan menceritakan bagaimana pengalaman dan perjuangan mereka menghadapi kesulitan itu, mereka mencoba dan terus mencoba hingga akhirnya berhasil. Intinya, kita ada disini sampai sekarang, itu bukan hanya karena kekuatan kita sendiri, kita juga pasti belajar dari pengalaman. Baik itu pengalaman dari diri sendiri atau pengalaman dari oranglain.

Pada hari Kamis, 24 April 2014, kelas C mata kuliah Teknik Wawancara mendapatkan suatu kesempatan yang sangat berharga yaitu bisa bertemu dengan orang-orang sukses yang menyempatkan diri untuk datang ke kelas tercinta kami dan bersedia berbagi pengalaman mengenai perjalanan karir mereka dengan kami, para junior-junior. Mereka adalah Ibu Dinah Kartana, Pak Bambang Hermansyah, dan Pak Samuel Adam. Perlu diketahui juga bahwa para alumnus tersebut merupakan asli alumni dari Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara. Tentunya, mereka bertiga juga bisa hadir di kelas kami karena undangan dari Ibu Henny Wirawan.

Awalnya, saya bingung apa yang akan saya kerjakan saat saya mengambil bagian PIO, saya juga ragu apakah pekerjaan itu memang layak dan boleh saya kerjakan? Alhasil, saya menemukan jawabannya dikelas ini. Dikesempatan ini, saya mendengarkan baik-baik cerita dari para senior saya mengenai perjuangan mereka hingga mereka bisa sukses sampai saat ini. Pengalaman mereka membuat saya belajar mengenai banyak hal dan membuka mata saya. Banyak hal yang ternyata masih tidak saya ketahui. Apapun itu, semuanya perlu usaha yang keras. Kuncinya satu Belajar. Jangan pernah berhenti belajar, jangan malu belajar dari oranglain, jangan malu belajar dari pengalaman, dan jangan malu belajar dari kesalahan.

Kesempatan pertama untuk sharing diberikan untuk Ibu Dinah, beliau merupakan alumni dari S1 psikologi untar dan S2 untar program klinis dewasa. Beliau menceritakan mengenai perjalanannya saat berada di Raja Ampat, Papua. Raja Ampat merupakan salah satu tempat yang sangat terkenal karena keindahan pantainya. Disana, beliau bekerja menjadi seorang HRD di perusahaan tambang nikel. Banyak pengalaman seru dan menarik yang didapatkan Bu Dinah disana berada disana.

Jujur, saya kagum dengan Bu Dinah karena menurut saya beliau termasuk perempuan yang mandiri dan berani mengambil resiko karena ia memilih untuk terjun langsung ke lapangan untuk melihat situasi dan orang-orang yang ada disana. Bu Dinah juga mengatakan bahwa disana tidak ada sinyal, jadi harus siap dengan apapun yang akan terjadi. Bu Dinah juga menceritakan bagaimana proses wawancaranya berlangsung dengan orang-orang yang ada disana. Hebatnya, Bu Dinah bisa menempatkan posisinya dengan baik dan beliau juga belajar untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada disana. Selain budaya dan gaya bahasa yang berbeda, tingkat pendidikan disana juga sangat minim. Jadi, pola pertama yang dilakukan Bu Dinah untuk mendapatkan data yaitu membina raport yang baik dengan orang-orang yang ada disana. Contohnya saat ada waktu luang, Bu Dinah akan bergabung dengan mereka, dan pada saat jam makan siang atau sedang asik memancing dipantai Bu Dinah akan mengajak mereka mengborol. Meskipun demikian, dbidalamnya juga terdapat beberapa pertanyaan dan pernyataan yang secara tidak langsung menggali mengenai kinerja dan diri para pekerja. Awalnya obrolan yang dilakukan seputar menanyakan kabar, bagaimana makan siangnya atau bagaimana hasil memancingnya, kemudian dengan menanyakan keluarga, lalu pekerjaannya. Dengan demikian, Bu Dinah secara tidak langsung menggali informasi lewat obrolan santai yang dilakukannya dengan orang-orang yang ada disana. Selain itu, bahasa yang digunakan oleh Bu Dinah bukanlah yang formal, melainkan yang biasa saja seperti percakapan sehari-hari, intinya yang hal tersebut dipahami oleh mereka dan membuat mereka tidak merasa memiliki perbedaan. Sehingga, mereka dapat memahami apa yang ditanyakan dan Bu Dinah sendiri mendapatkan suatu data yang sangat penting.

Kemudian, Bu Dinah juga menceritakan mengenai kekagetannya sangat memberikan tes DAP. Menurut hasil yang diperoleh, hampir semua pekerja menggambar putri duyung. Bu Dinah bukannya marah, malah yang dilakukannya adalah bertanya untuk mengklarifikasikan hasil gambar yang telah dibuat. Dan ternyata, penduduk disana ternyata percaya bahwa putri duyung itu ada dan mereka meyakini hal tersebut sampai saat ini.

Kesempatan kedua untuk  sharing diberikan untuk Pak Bambang Hermansyah. Beliau merupakan lulusan S1 untar. Awal perbincangan, Pak Bambang menceritakan sedikit mengenai perjuangannya saat menyusun skripsi, beliau juga menceritakan mengenai pengalamannya saat magang yang tidak digaji. Saat ini, Pak Bambang bekerja disalah satu perusahaan asuransi ternama. Menurut saya, beliau tipe orang yang pekerja keras, suka belajar, rajin bertanya, dan mau berusaha dengan maksimal. Saya juga jarang menemui orang yang seperti beliau. Jadi ceritanya saat itu beliau bekerja di bidang HRD Rekrutmen. Kemudian, beliau belajar dan terus menggali informasi lewat rekannya hingga beliau berhasil mengembangkan kemampuannya juga di bidang HRD Development. Selain itu, Pak Bambang juga memiliki teknik wawancara yang dipegangnya yaitu metode STAR (Situation, Task, Action, Result). Situation yaitu menanyakan kepada calon karyawan apakah mereka memiliki pernah memiliki pengalaman kerja yang melekat atau tidak. Task menekankan pada tugas apa yang pernah dikerjakan calon karyawan. Selanjutnya Action adalah aksi yang dilakukan subjek ketika dirinya ditanya mengenai masalah dan Result adalah hasil dari wawancara apakah sesuai dengan kenyataan. Pak Bambang juga memberikan tambahan mengenai kerucut, maksudnya itu kita sebagai pewawancara, kita harus bisa seperti kerucut yang terus masuk kedalam. Semakin bertanya, semakin dalam lagi, dan kita jangan terjebak, makanya harus fokus dan harus konsisten. Apapun dan siapa pun yang nantinya akan kita wawancara kita harus siap. Mau dia dokter dan pejabat sekalipun kita harus tenang dan sebisa mungkin kita itu harus memposisikan diri kita itu diatasnya atau minimal sama rata dengan dia. Maksudnya, orang yang kita wawancara itu tidak mengetahui status dan tingkat pendidikan kita, yang ada itu kita yang mengetahui siapa mereka, jadi usahakan tetap tenang, jangan langsung grogi dan jangan canggung. Jika tidak mengerti mengenai apa yang mereka katakan, jangan ragu-ragu untuk bertanya dan mengklarifikasikan jawaban mereka, takutnya jika kita pura-pura mengerti dan tetap tidak mau bertanya yang ada kita yang akan terjebak dan mati kutu.

Dan Ketiga, sharing terakhir oleh Pak Samuel Adam. Beliau merupakan lulusan S1 untar dan S2 untar yang mengambil profesi PIO. Menurut Pak Samuel, beliau sangat suka klinis dewasa dan PIO, namun karena pada saat itu beliau kuliah sambil kerja dan klinis dewasa tidak ada kuliah malam, beliau mengambil PIO. Beliau bekerja diperusahaan minuman beralkohol ternama di Indonesia sebagai kepala seluruh cabang di Indonesia. Beliau menceritakan bahwa ia bekerja di bagian HRD Recruitment dan bisa mencari pelamar hingga 250 orang per-bulan. Pak Samuel juga menggunakan teknik wawancara yang santai dengan suasana yang nyaman, demografis, dan logis. Seperti melakukan wawancara di kafe untuk menggali informasi dan agar suasananya tidak menegangkan.

Jadi, banyak hal yang sebenarnya yang dapat kita lakukan untuk mendapatkan data. Yang penting kita harus bisa pegang dan kuasai apa yang sudah kita miliki dan kita jangan pernah takut mencoba. Kita juga harus terjun langsung untuk mendapatkan hasil yang maksimal, jangan monoton. Kita harus bisa menempatkan diri kita dimana kita berada, jangan samakan diri kita dengan orang lain. Kita tidak boleh memberikan pandangan negatif pada orang yang baru kita kenal, harus cari tahu dulu budaya dan latar belakangnya apa. Jangan mudah tertipu, tampilan luar terkadang bukanlah gambaran yang sebenarnya mengenai dirinya. Kita juga santai tapi tetap fokus, memperhatikan jawaban dan gerak-gerik saat merespon jawaban. Dan terakhir, apa yang terjadi dimasa lalu atau apa yang pernah dialaminya, mungkin itu bisa memberikan pengaruh pada saat ini.

Terimakasih untuk Kelas C Teknik Wawancara.. 
Terimakasih untuk Ibu Henny dan Ci Tasya..
Dan terimakasih untuk Bu Dinah, Pak Bambang, dan Pak Sammy buat semua pengalaman berharga yang sudah diceritakan.. Itu sangat berharga..  :)

Rabu, 26 Maret 2014

Tak Kenal Maka Tak Sayang

“Tak Kenal Maka Tak Sayang”
Sering mendengar pepatah itu? Yah, bagaimana mungkin anda dapat mengetahui diri seseorang jika anda sendiri tidak kenal dengan dia dan anda tidak mengetahui dia siapa.  Pasti kita hanya diam saja atau bahkan kita akan menjauh darinya. Contohnya jika kita pertama kali masuk disekolah yang baru dan tiba-tiba ada yang mengajak kita ngborol, pasti dia akan memperkenalkan dirinya terlebih dahulu kepada kita baru selanjutnya akan membahas topik yang lainnya. Itupun yang dibicarakan pasti bukan masalah yang bersifat pribadi, paling tidak seputar alasan memilih sekolah yang sekarang dan dulunya berasal dari sekolah mana. Tidak mudah untuk mengobrol dengan orang asing, apalagi orang tersebut baru pertama kali dijumpai. Pasti kita tidak mudah percaya dengan orang tersebut kan?

Saya membawa topik ini karena berhubungan dengan pembahasan mengenai mata kuliah teknik wawancara pada hari Kamis, 20 Maret 2014.. Ini adalah tentang Social History.. Namanya juga history, setiap orang punya cerita dan punya kisah. Baik dan buruk itu semua adalah perjalanan yang ada didalam kehidupan, itu adalah kisah kita sendiri. Yang baik akan kita simpan dan yang buruk kita buang jauh-jauh. Tapi, bagaimanapun dan seberapa buruknya itu, pengalaman buruk itu jugalah yang memberikan warna-warni dalam kehidupan kita. Kita jadi dapat memetik suatu hal bahwa tidak semuanya didunia ini baik dan tidak semua orang dapat menjadi guru dalam hidup kita. Karena guru yang sebenarnya untuk diri kita adalah pengalaman kita itu sendiri. itu adalah guru yang utama.




Ingatlah bahwa masalah yang saat ini dihadapi oleh klien tidak hanya disebabkan oleh faktor bawaan (nature) namun juga oleh faktor lingkungan (nurture)”. Sama seperti hubungan antara psikolog dengan kliennya. Seorang psikolog harus membangun rapport terlebih dahulu dengan klien, membangun suatu hubungan, mencari identitas mengenai diri klien dan latar belakangnya seperti apa. Tidak semua masalah yang terjadi disebabkan oleh diri sendiri, semua pasti ada sebab akibat, bisa saja karena lingkungan yang buruk yang mengubah sikap dan prilakunya. Contohnya saja ketika kita punya teman yang terkenal sangat nakal disekolah. Ketika dia tiba-tiba menceritakan masalahnya kepada kita, kita jangan langsung menjudgement dia. kita harus pegang satu kunci bahwa dia percaya sama kita dan dia percaya bahwa kita dapat membantu dia. Kita harus cari tahu dulu asalannya melakukan itu. Ternyata setelah diselidiki, dia menjambak rambut temannya karena temannya tidak mau menemaninya kekantin. Mamanya juga selalu bersikap demikian ketika anaknya tidak mau menuruti kemauan ibunya. Kadang juga rambutnya juga suka diseret kelantai kalau mamanya sedang marah besar secara tiba-tiba. Dia merasa dengan menjambak rambut temannya adalah hal yang biasa, karena dia setiap hari juga mengalami hal seperti itu. Padahal itu tidak baik dan sangat buruk. Maka, kita harus kasih pandangan padanya bahwa itu tidak baik dan tidak seharusnya dia melakukan itu. Kita harus bantu dia membuka mata hatinya dan memberikan solusi yang terbaik itu seperti apa.

      


Terkadang kita juga hanya melihat seseorang dari covernya saja, padahal isi didalamnya tidak seburuk dengan yang ada diluarnya. Melihat gaya berpakaian orang yang berantakan, kita langsung memberikan pandangan negatif dan tidak mau berteman dengannya. Padahal, bisa saja gaya pakaian dia memang seperti itu, dia orang yang terlalu cuek dengan pakaiannya. Kita juga terkadang sepele dengan apa yang diajarkan dan yang diberikan oleh orangtua kita, namun jika itu memang buruk, itu akan berdampak sangat besar untuk kehidupan kita. Terlebih ketika kita sedang dinasehati oleh Mama kita karena kita sedang berpacaran. Mungkin saja mama kita melihat cara dan gaya berpacaran yang kita lakukan salah. Oleh sebab itu, kita harus mengenalkan pacar kita pada orangtua kita agar mereka juga mengetahui latar belakang pacar kita dan mereka juga tidak terlalu khawatir. Kita harus beritahu kita ngapain saja dan ketika kita mulai curiga mengenai sikap pacar kita, kita bisa cerita ke orangtua juga, terlebih mama. Siapa tau mama kita memberikan pandangan dan bisa menceritakan pengalaman masa berpacaran juga kepada kita.

Sebelum kita menanyakan masalah yang dihadapi, ada baiknya kita memberikan dia waktu untuk menceritakan mengenai dirinya. selanjutnya kita bisa bertanya mengenai kehidupannya. Apakah dia sudah menikah? Jika tidak, apakah dia punya pacar? seberapa baikkah hubungannya dengan pacarnya. Bagaimana sikap pacarnya terhadapnya dan bagaimana sikap dirinya sendiri dengan pacar, sudah berapa lama berhubungan, apakah sering ada masalah atau tidak. Selanjutnya, kita akan menanyakan bagaimana hubungannya dengan keluarganya. Apakah didalam keluarganya ada yang mempunyai gangguan mental. Seberapa besar andil keluarga dalam kehidupannya. Ketika sudah mengetahui latar belakang dan identitasnya, kita akan mengetahui alasan perbuatannya melakukan seperti itu.

Tidak berhenti sampai disana, kita juga harus melihat dari faktor lainnya juga. kita bisa menanyakan seputar pendidikannya dia disekolah. Seperti apa hubungan dia dengan temannya, orang-orang yang ada didekatnya, dan disekitarnya. Apakah dia orang yang mudah dekat dengan oranglain atau malah orang yang sangat tertutup, tidak mudah berkenalan dengan orang asing. Tidak salah juga untuk menanyakan apakah sebelumnya dia sudah pernah ketempat psikolog atau psikiater. Siapa tau sebelumnya dia pernah pergi ke psikolog/psikiater. Itu akan membantu kita untuk melihat diagnosa sebelumnya, yang pernah diberikan oleh psikolog. Jangan salah juga, siapa tau ada psikiater yang salah memberikan diagnosa, sehingga dia memberikan obat yang salah juga, atau bahkan dia memberikan obat dalam dosis yang sangat tinggi. Sehingga, itu yang mempengaruhi perkembangannya sampai sekarang.
Contohnya, saat kita mengetahui klien kita hanya tamatan SD dan berasal dari suatu budaya batak. Maka kita harus memaklumi suaranya, kita juga menggunakan bahasa yang biasa, yang tidak ambigu dan tidak terlalu formal, agar dapat memudahkannya untuk mengerti apa yang kita dan sampaikan dan dia dapat nyaman saat bercerita dengan kita. Namun, ada juga beberapa orang yang tidak langsung menceritakan mengenai masalah pribadinya pada kita. Kita tidak harus memaksanya dan jangan sesekali memaksanya. Kita sendiri tidak mudah untuk percaya dengan orang kan? Terkadang apa yang dikatakan oleh teman kita sendiri kita juga bisa ragu, kan? Pasti ada saatnya juga kita ragu mengenai yang diceritakan oleh teman kita, dia jujur gak sih?. Kejanggalan itu juga pasti ada, makanya kelak menjadi seorang psikolog, apalagi saat kita hendak mewawancarai klien, kita harus banyak menggali mengenai diri klien kita dan harus memperhatikan dengan serius setiap hal yang diucapkan oleh klien. Barangkali, ada suatu kata kunci yang bisa kita pakai saat dia menceritakan mengenai masalahnya.


Seperti pepatah yang mengatakan bahwa:

"Hidup ini kamu yg menjalani, kamu adalah penulis kisah hidupmu. Jangan biarkan orang lain yg menentukannya."
"Kita lahir dengan dua mata di depan wajah kita, kita tidak boleh selalu melihat ke belakang, tapi pandanglah semua itu ke depan, pandanglah masa depan kita."
"Jangan takut akan perubahan, kita mungkin kehilangan sesuatu yang baik, namun kita akan peroleh sesuatu yang lebih baik lagi."
"Jangan terpuruk ketika kamu tengah berada dalam situasi terburuk, Tuhan memberikannya padamu, karena Dia ingin kamu lebih kuat dari sebelumnya."



Selasa, 18 Maret 2014

Mengerti untuk Dimengerti, Mendengar untuk Didengar, dan Memahami untuk Dipahami

Mari kita hayati dan rasakan kata per-kata yang ada dijudul.. Apakah kita selalu ingin dimengerti orang lain? Apakah kita pernah mendengarkan apa yang mereka inginkan? Lalu, apakah kita pernah mencoba untuk memahami apa yang sedang mereka rasakan, yang mereka alami, dan yang mereka inginkan??

........
...........
................

Apa pendapat kalian? Apa yang kalian rasakan?? Jawablah dengan hati nurani dan kejujuran..
Mari kita mulai untuk introspeksi diri dan mencoba untuk memperbaiki kesalahan yang telah terjadi..


   

                                   
                       



Sama halnya dengan sebuah wawancara, menjadi seseorang pewawancara itu tidaklah mudah, bukan hanya bertanya dengan sembarangan dan sesuka hati. Begitupula psikolog yang hendak melakukan wawancara, itu HARUS PUNYA HATI. Hati yang benar-benar tulus untuk membantu dan menolong tanpa mengharapkan imbalan atau dibayar. Bertanya itu untuk mencari fakta, kebenaran, dan mengklarifikasikan sebuah kejadian. Dari pertemuan kelas Teknik Wawancara saya yang kelima pada tanggal 13 Maret 2014, Ibu H.E.W. dan didampingi Ci T mengatakan bahwa ada 6 keterampilan yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pewawancara yang baik. Apa saja itu? Mari kita kupas tuntas setajam silet... Hahaha

1. Kemampuan membina rapport 

Rapport adalah usaha untuk menciptakan suasana atau atmosfer yang hangat, yang nyaman, yang dapat mendorong klien untuk berbicara secara bebas, jujur, dan fokus terhadap topik yang sudah ditentukan dari awal. Rapport adalah hubungan antara klien dengan psikolog. Jika rapport terbangun dengan baik, maka klien akan lebih terbuka, nyaman dan jujur dengan psikolog selama proses berlangsung. Dalam hal ini juga banyak hal yang harus diketahui dan dipelajari.


a. Dalam hal berjabat tangan (bersalaman)

Dari beberapa hal yang saya dapat dan saya baca, dikatakan bahwa memberi salam dalam satu pertemuan akan menciptakan kesan pertama yang positif sekaligus membuka pembicaraan ke tahap selanjutnya. Secara teknis, bersalaman adalah menggenggam tangan orang lain dan saling menempelkan bagian tangan di antara jari jempol dan telunjuk, kemudian memberikan tekanan. Yang menjadi masalah dalam berjabat tangan adalah tekanan yang baru saja disebutkan. Sebagian orang menekan tangan orang lain terlampau keras sehingga terkesan ingin meremukkan tulang. Sebagian yang lain melakukan jabat tangan tanpa tekanan sama sekali sehingga terkesan tidak bersemangat. Tekanan itu perlu, tapi penekanannya harus benar dan tepat.

Perlu diketahui, karena kita tinggal di Asia, di Indonesia, ada beberapa hal yang perlu diketahui dalam berjabat tangan. Bagi beberapa kaum muslim, berjabat tangan itu menempelkan kedua tangan dan ada jaraknya. Sedangkan bagi kaum yang lainnya, berjabat tangan itu menempelkan satu tangan ke tangan oranglain. Intinya harus disesuaikan dengan orangnya dan budayanya seperti apa.

b. Ekspresi Wajah
Ekspresi wajah juga sangat menentukan rapport. Jangan memasang wajah yang datar (tanpa ekspresi seperti squidward). Tapi, jika pada dasarnya sudah demikian, usahakan ada sedikit senyuman, agar terlihat setitik cahaya yang terpancar dari wajah.. hehehe
Kemudian, ketika kalian sedang bercerita tentang permasalahannya, jangan memasang wajah judgment, apalagi tampang kaget, dan menangis ketika topik pembicaraannya adalah ditinggal pacar (pasangan). Bisa-bisa kita (psikolog) juga ikutan curhat ke klien, bahaya itu. Intinya stay cool, walaupun dalam hati kaget dan tidak menyangka itu terjadi.

                     


C. Posisi Duduk dan Berpakaian
Sebagai pewawancara dan psikolog yang baik, berpakaian yang baik dan sopan sangat diwajibkan. Untuk wanita, kenakan baju yang tertutup, baju ada kerahnya, atau pakai kemeja dan rok (roknya juga jangan yang terlalu ketat) atau celana bahan berwarna hitam. Sedangkan untuk pria, gunakan kemeja dan celana bahan yang hitam juga. Kemudian, Posisi duduk juga usahakan membentuk sudut 90°. Jangan terlalu dekat juga, bisa bahaya kalau yang masuk adalah pasien yang skizo.

 
      


d. Kondisi Ruangan
Kondisi ruangan yang kondisif dapat membuat klien jadi nyaman. Perhatikan juga barang-barang yang ada disekitar meja. Tidak perlu banyak yang diletakkan diatas meja, seperti komputer, buku, kertas kosong, buku laporan, aneka bolpoin, tisu, kaca, dsb. Jadinya seperti mau dagang, bukan? Sebaiknya, disingkirkan barang-barang yang tidak terlalu penting karena dapat menganggu berlangsungnya wawancara. Terlebih jika ada handphone, dan tiba-tiba berbunyi ditengah pembicaraan. Bisa menganggu dan membuat sulit berkonsentrasi, kan?


2. Kemampuan Berempati
Empati itu kita melihat dengan kacamata orang lain, bukan langsung menjudgment. Kita ikut merasakan dan memahami apa yang sedang dirasakan klien (tukar posisi). Disini, kita juga bisa turut sedih ketika klien kita menceritakan masalahnya. Tapi, jangan berlebihan dan jangan sampai kita yang lebih sedih sambil menangis, sedangkan klien kita tidak sampai menangis. Itu bahaya. Kunci utama dari empati adalah selalu fokus dengan klien sepanjang waktu. Empati juga bisa dengan sikap nonverbal seperti kontak mata, senyum, mengangguk kepala sebagai tanda mendengar. MENDENGAR dulu baru bisa MENGERTI, MENGERTI dulu baru bisa MEMAHAMI, dan MEMAHAMI dahulu baru kemudian MEMBERIKAN JALAN KELUAR (SOLUSI).
      
            



3. Attending Behavior
Kunci utamanya adalah untuk mengurangi kuantitas berbicara dan memberikan waktu pada klien untuk menceritakan tentang diri mereka. Attending akan lebih gampang jika kita lebih fokus ke klien daripada ke diri kita sendiri. Ada empat dimensi  dalam attending behavior, rumusnya 3V+1B, yaitu visual (menatap klien dan jangan mengalihkan pandangan), kualitas vokal (berbicara dengan nada yang tidak terlalu tinggi atau rendah, dan tidak berbicara terlalu cepat atau terlalu lamban), verbal tracking (tidak mengubah topik pembicaraan), dan body language (bersikap atentif dan autentik, apa adanya dan tidak berlebihan).

                    


4. Teknik Bertanya
Dalam bertanya, hindari kata “kenapa, mengapa” karena akan membuat klien merasa dalam posisi yang salah. Kata kenapa dapat diganti misal dengan “apa yang terjadi”. Disamping itu, ketika bertanya dengan klien yang sulit bicara, jangan memaksa klien untuk bicara karena bisa membuat klien merasa terganggu. Dalam teknik bertanya terdapat dua jenis pertanyaan, yaitu open question dan closed questionOpen question adalah jenis pertanyaan yang yang membebaskan klien untuk mengekspresikan perasaannya. Closed question adalah pertanyaan yang mengarahkan pada jawaban klien, biasanya pendek dan terbatas seperti ya atau tidak serta pertanyaan tertutup ini biasanya digunakan oleh psikolog ketika menjelang diagnosa. 


 5. Keterampilan Observasi
Wawancara tidak bisa dipisahkan dengan yang namanya observasi karena saat wawancara kita juga perlu fokus dan memperhatikan ekspresi wajah serta bahasa tubuh klien. Tapi, tidak membuat stereotype saat mengobservasi. Selain itu, saat melakukan observasi, kita juga harus jeli dan peka pada setiap kata dan kalimat yang diucapkan klien, karena setiap hal yang keluar dari mulut klien adalah sebuah kata kunci. Mungkin saja itu adalah jawaban dari yang kita cari.


6. Active listening
Seorang psikolog harus mampu mendengarkan secara aktif, suka atau tidak mengenai hal yang akan dibicarakan, serta harus mampu membuat kesimpulan dan solusi dari masalah yang disampaikan klien. Kemampuan ini juga dibagi dalam 4 hal yang perlu diketahui, yaitu:

a.    Encouraging
Digunakan untuk memancing orang yang diwawancara untuk berbicara. Ada 3 cara yaitu probing (gali informasi yang telah klien kemukakan), non verbal encourages ( beri orang yang diwawancara kesempatan untuk menghayati perasaannya, namun jangan terlalu lama); yang terakhir adalah verbal encourages (ulangi kata terakhir yang orang tersebut ucapkan dengan nada yang berbeda, namun jangan terlalu sering digunakan karena bisa mengganggu).

b.    Paraphrasing n reflection of feelings
Paraphrasing fokusnya pada isi dan klarifikasi apa yang dibicarakan sehingga klien tahu bahwa kita mendengarkan ceritanya dengan jelas. Refleksi perasaan klien dapat dilakukan dengan mengidentifikasi emosi klien dan menanggapinya untuk mengklarifikasi emosi tersebut. Refleksi perasaan sering dikombinasikan dengan parafrase dan rangkuman (summarizing), yaitu kesimpulan dari satu sesi wawancara. Biasanya, ringkasan ini digunakan untuk mengakhiri wawancara, memulai topik baru, dan mengklarifikasi isu.

c.    Parroting
Mengulang kembali apa yang dikatakan oleh klien cukup baik untuk lebih memperjelas maksud dan arti dari yang telah disampaikan. Namun, terlalu banyak dan sering mengulang kata klien bukannya mendapatkan data, melainkan mendapatkan pandangan negatif dari klien. Klien merasa terganggu dan tidak nyaman untuk menceritakan kembali masalahnya.
        


Seorang pendengar yang baik mencoba memahami sepenuhnya apa yang dikatakan orang lain. Pada akhirnya mungkin saja ia sangat tidak setuju, tetapi sebelum ia tidak setuju, ia ingin tahu dulu dengan tepat apa yang tidak disetujuinya."

(Kenneth A. Wells)