Mari kita hayati dan rasakan kata per-kata yang ada
dijudul.. Apakah kita selalu ingin dimengerti orang lain? Apakah kita pernah
mendengarkan apa yang mereka inginkan? Lalu, apakah kita pernah mencoba untuk
memahami apa yang sedang mereka rasakan, yang mereka alami, dan yang mereka
inginkan??
........
...........
................
Apa pendapat kalian? Apa yang kalian rasakan?? Jawablah
dengan hati nurani dan kejujuran..
Mari kita mulai untuk introspeksi diri dan mencoba untuk
memperbaiki kesalahan yang telah terjadi..
Sama halnya dengan sebuah
wawancara, menjadi seseorang pewawancara itu tidaklah mudah, bukan hanya
bertanya dengan sembarangan dan sesuka hati. Begitupula psikolog yang hendak melakukan wawancara, itu HARUS
PUNYA HATI. Hati yang benar-benar
tulus untuk membantu dan menolong tanpa mengharapkan imbalan atau dibayar. Bertanya
itu untuk
mencari fakta, kebenaran, dan mengklarifikasikan sebuah kejadian. Dari
pertemuan kelas Teknik Wawancara saya yang kelima pada tanggal 13 Maret 2014,
Ibu H.E.W. dan didampingi Ci T mengatakan bahwa ada 6 keterampilan yang
dibutuhkan untuk menjadi seorang pewawancara yang baik. Apa saja itu? Mari kita
kupas tuntas setajam silet... Hahaha
1. Kemampuan membina rapport
1. Kemampuan membina rapport
Rapport adalah usaha
untuk menciptakan suasana atau atmosfer yang hangat, yang
nyaman, yang dapat mendorong klien untuk berbicara secara
bebas, jujur, dan fokus terhadap topik yang sudah ditentukan dari
awal. Rapport adalah hubungan antara klien dengan psikolog.
Jika rapport terbangun dengan baik, maka klien akan lebih terbuka,
nyaman dan jujur dengan psikolog selama proses berlangsung. Dalam hal ini juga
banyak hal yang harus diketahui dan dipelajari.
a. Dalam hal berjabat tangan
(bersalaman)
Dari beberapa hal yang saya
dapat dan saya baca, dikatakan bahwa memberi salam dalam satu pertemuan akan
menciptakan kesan pertama yang positif sekaligus membuka pembicaraan ke tahap
selanjutnya. Secara teknis, bersalaman adalah menggenggam tangan orang lain dan
saling menempelkan bagian tangan di antara jari jempol dan telunjuk, kemudian
memberikan tekanan. Yang menjadi masalah dalam berjabat tangan adalah tekanan
yang baru saja disebutkan. Sebagian orang menekan tangan orang lain terlampau
keras sehingga terkesan ingin meremukkan tulang. Sebagian yang lain melakukan
jabat tangan tanpa tekanan sama sekali sehingga terkesan tidak bersemangat.
Tekanan itu perlu, tapi penekanannya harus benar dan tepat.Perlu diketahui, karena kita tinggal di Asia, di Indonesia, ada beberapa hal yang perlu diketahui dalam berjabat tangan. Bagi beberapa kaum muslim, berjabat tangan itu menempelkan kedua tangan dan ada jaraknya. Sedangkan bagi kaum yang lainnya, berjabat tangan itu menempelkan satu tangan ke tangan oranglain. Intinya harus disesuaikan dengan orangnya dan budayanya seperti apa.
b. Ekspresi Wajah
Ekspresi
wajah juga sangat menentukan rapport. Jangan memasang wajah yang datar (tanpa ekspresi
seperti squidward). Tapi, jika pada
dasarnya sudah demikian, usahakan ada sedikit senyuman, agar terlihat setitik
cahaya yang terpancar dari wajah.. hehehe
Kemudian, ketika kalian sedang bercerita tentang permasalahannya, jangan
memasang wajah judgment, apalagi tampang kaget, dan menangis ketika topik
pembicaraannya adalah ditinggal pacar (pasangan). Bisa-bisa kita (psikolog)
juga ikutan curhat ke klien, bahaya itu. Intinya stay cool, walaupun dalam hati kaget dan tidak menyangka itu
terjadi.
C. Posisi Duduk dan Berpakaian
Sebagai pewawancara dan psikolog yang baik, berpakaian yang baik dan
sopan sangat diwajibkan. Untuk wanita, kenakan baju yang tertutup, baju ada
kerahnya, atau pakai kemeja dan rok (roknya juga jangan yang terlalu ketat)
atau celana bahan berwarna hitam. Sedangkan untuk pria, gunakan kemeja dan
celana bahan yang hitam juga. Kemudian, Posisi duduk juga usahakan
membentuk sudut 90°. Jangan terlalu
dekat juga, bisa bahaya kalau yang masuk adalah pasien yang skizo.
d. Kondisi Ruangan
Kondisi ruangan yang kondisif dapat membuat klien jadi nyaman.
Perhatikan juga barang-barang yang ada disekitar meja. Tidak perlu banyak yang diletakkan
diatas meja, seperti komputer, buku, kertas kosong, buku laporan, aneka
bolpoin, tisu, kaca, dsb. Jadinya seperti mau dagang, bukan? Sebaiknya,
disingkirkan barang-barang yang tidak terlalu penting karena dapat menganggu
berlangsungnya wawancara. Terlebih jika ada handphone,
dan tiba-tiba berbunyi ditengah pembicaraan. Bisa menganggu dan membuat sulit
berkonsentrasi, kan?
2.
Kemampuan Berempati
Empati itu kita melihat
dengan kacamata orang lain,
bukan langsung menjudgment. Kita ikut merasakan dan memahami apa yang sedang dirasakan
klien (tukar posisi). Disini, kita juga bisa turut sedih ketika klien kita
menceritakan masalahnya. Tapi, jangan berlebihan dan jangan sampai kita yang
lebih sedih sambil menangis, sedangkan klien kita tidak sampai menangis. Itu bahaya. Kunci utama dari empati adalah selalu fokus dengan klien sepanjang
waktu. Empati juga bisa dengan sikap nonverbal
seperti kontak mata, senyum, mengangguk kepala sebagai tanda mendengar. MENDENGAR
dulu baru bisa MENGERTI, MENGERTI dulu baru bisa MEMAHAMI, dan MEMAHAMI
dahulu baru kemudian MEMBERIKAN JALAN
KELUAR (SOLUSI).
3. Attending Behavior
Kunci utamanya adalah untuk mengurangi kuantitas berbicara dan
memberikan waktu pada klien untuk
menceritakan tentang diri mereka. Attending akan
lebih gampang jika kita lebih fokus ke klien daripada ke diri kita sendiri. Ada empat dimensi dalam attending behavior, rumusnya 3V+1B,
yaitu visual
(menatap klien dan jangan mengalihkan pandangan), kualitas vokal (berbicara
dengan nada yang tidak
terlalu tinggi atau rendah,
dan tidak berbicara terlalu cepat atau terlalu lamban), verbal tracking (tidak mengubah topik pembicaraan), dan body language (bersikap
atentif dan autentik, apa
adanya dan tidak berlebihan).
4. Teknik Bertanya
Dalam bertanya, hindari kata “kenapa, mengapa” karena akan membuat klien merasa dalam posisi yang salah. Kata kenapa dapat diganti misal dengan “apa yang terjadi”. Disamping itu, ketika bertanya dengan klien yang sulit bicara, jangan memaksa klien untuk bicara karena bisa membuat klien merasa terganggu. Dalam teknik bertanya terdapat dua jenis pertanyaan, yaitu open question dan closed question. Open question adalah jenis pertanyaan yang yang membebaskan klien untuk mengekspresikan perasaannya. Closed question adalah pertanyaan yang mengarahkan pada jawaban klien, biasanya pendek dan terbatas seperti ya atau tidak serta pertanyaan tertutup ini biasanya digunakan oleh psikolog ketika menjelang diagnosa.
Dalam bertanya, hindari kata “kenapa, mengapa” karena akan membuat klien merasa dalam posisi yang salah. Kata kenapa dapat diganti misal dengan “apa yang terjadi”. Disamping itu, ketika bertanya dengan klien yang sulit bicara, jangan memaksa klien untuk bicara karena bisa membuat klien merasa terganggu. Dalam teknik bertanya terdapat dua jenis pertanyaan, yaitu open question dan closed question. Open question adalah jenis pertanyaan yang yang membebaskan klien untuk mengekspresikan perasaannya. Closed question adalah pertanyaan yang mengarahkan pada jawaban klien, biasanya pendek dan terbatas seperti ya atau tidak serta pertanyaan tertutup ini biasanya digunakan oleh psikolog ketika menjelang diagnosa.
5. Keterampilan Observasi
Wawancara tidak bisa
dipisahkan dengan yang namanya observasi karena saat wawancara kita juga perlu fokus dan memperhatikan ekspresi wajah serta bahasa tubuh klien. Tapi, tidak membuat stereotype saat mengobservasi. Selain itu, saat melakukan observasi,
kita juga harus jeli dan peka pada setiap kata dan kalimat yang diucapkan
klien, karena setiap hal yang keluar dari mulut klien adalah sebuah kata kunci.
Mungkin saja itu adalah jawaban dari yang kita cari.
6. Active listening
Seorang psikolog harus mampu mendengarkan secara aktif, suka atau tidak mengenai hal yang akan
dibicarakan, serta harus mampu membuat kesimpulan dan solusi dari masalah yang
disampaikan klien. Kemampuan
ini
juga dibagi dalam 4 hal yang perlu diketahui, yaitu:
a.
Encouraging
Digunakan untuk memancing orang yang diwawancara untuk
berbicara. Ada 3 cara yaitu probing (gali
informasi yang telah klien kemukakan), non
verbal encourages ( beri orang yang diwawancara kesempatan untuk
menghayati perasaannya, namun jangan terlalu lama); yang terakhir adalah verbal
encourages (ulangi kata
terakhir yang orang tersebut ucapkan dengan nada yang berbeda, namun jangan terlalu
sering digunakan karena bisa mengganggu).
b.
Paraphrasing n
reflection of feelings
Paraphrasing fokusnya pada isi dan klarifikasi apa yang dibicarakan
sehingga klien tahu bahwa kita mendengarkan ceritanya dengan jelas. Refleksi
perasaan klien dapat dilakukan dengan mengidentifikasi emosi klien dan
menanggapinya untuk mengklarifikasi emosi tersebut. Refleksi perasaan sering
dikombinasikan dengan parafrase dan rangkuman (summarizing),
yaitu
kesimpulan dari satu sesi wawancara. Biasanya, ringkasan ini digunakan untuk
mengakhiri wawancara, memulai topik baru, dan mengklarifikasi isu.
c.
Parroting
Mengulang kembali apa yang
dikatakan oleh klien cukup baik untuk lebih memperjelas maksud dan arti dari
yang telah disampaikan. Namun, terlalu
banyak dan sering mengulang kata klien bukannya mendapatkan data, melainkan
mendapatkan pandangan negatif dari klien. Klien merasa terganggu dan tidak
nyaman untuk menceritakan kembali masalahnya.
Seorang pendengar yang baik mencoba memahami sepenuhnya apa yang dikatakan orang lain. Pada akhirnya mungkin saja ia sangat tidak setuju, tetapi sebelum ia tidak setuju, ia ingin tahu dulu dengan tepat apa yang tidak disetujuinya."
(Kenneth A. Wells)











Tidak ada komentar:
Posting Komentar