Selasa, 03 Juni 2014

Panti Ini Pun Menyadarkanku. Gak Percaya? Yuk, berkunjung!

Pada tanggal 02 Juni 2014, saya memiliki pengalaman yang baru dan suatu pembelajaran yang menurut saya itu sangat berharga untuk diri saya. Saya dan keempat teman saya berkunjung ke salah satu panti asuhan yang ada didaerah Kota Bumi, Tangerang. Kedatangan kami ke panti tersebut adalah untuk memenuhi tugas akhir dalam mata kuliah Teknik Wawancara.

Jarak tempuh dari kampus saya ke lokasi sebenarnya tidak terlalu jauh. Hanya saja karena saya dan teman saya (Diva) salah jalan, alhasil jarak tempuh yang sebenarnya hanya 1,5 jam menjadi 4 jam karena kami salah rute perjalanan. Kami baru tiba dilokasi pada pukul jam 3 siang. Sebelum menuju panti, saya dan Diva berhenti di persimpangan jalan untuk menunggu Ka Wenny, Tata, dan Sinta untuk bersama-sama menuju panti tersebut.

Selama diperjalanan, saya melihat pemandangan yang ada sekitar saya, tempat ini berhasil mengingatkan saya akan kampung saya yang di Toba.  Di Toba, banyak pohon-pohon dan sawah di sisi-sisi jalan, sama seperti tempat ini. Selain itu, karena tempat panti saya ini berada di pedalaman Kota Bumi nya, udara ditempat ini juga lumayan sejuk dan jauh dari keramaian, suasanya seperti lagi didesa. Rasanya, saya ingin segera ke Medan dan berencana ingin langsung ke Toba, sekalian melihat pemandangan yang ada di Danau Toba.

Singkat cerita, saya dan keempat teman saya tiba juga ditempat lokasi. Namun, untuk menuju rumah panti tersebut, kami harus menyeberang jalan yang ada disana dengan bambu. Cukup panik dan lumayan takut untuk berjalan diatas bambu karena ini pengalaman pertama saya. Setelah saya melewati bambu-bambu itu, saya memperhatikan Tata dan Sinta yang akan menyeberang. Yang paling takut diantara kami adalah Tata, karena Tata memiliki badan yang cukup besar dibandingkan dengan kami semua. Jadi, hendak berjalan, dia takut kalau bambunya akan patah karena menanggung berat badannya.  

Setibanya ditempat, kami disambut dengan Ibu pengurus dan beberapa anak yang ada dipanti. Ketika mereka melihat kami, anak-anak tersebut langsung menghampiri kami dan memberikan salam pada kami. Tidak banyak hal yang dapat saya jelaskan bagaimana perasaan saya disana. Tidak dapat dijelaskan dengan semua kata-kata yang saya tulis disini. Saya melihat mereka dengan keadaan mereka yang menurut saya cukup prihatan, tapi mereka tidak menunjukkan kesedihan itu, mereka bahkan banyak tersenyum dan tertawa, serasa mereka tidak ada masalah. Semua kelihatan sangat bahagia dan ceria karena saya lihat mereka saling bermain dan berinteraksi.

Disinilah dimulai, setelah berbincang-bincang sebentar dan turut serta dalam kegiatan mereka, kami mulai melakukan wawancara cengan subyek masing-masing yang sudah disediakan. Saya sendiri mendapatkan seorang subyek perempuan, sebut saja namanya Tiwi. Saat ini usia subyek berumur 12 tahun dan duduk dibangku kelas 6 SD. Subyek merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Selama melakukan proses tanya-jawab, saya sangat sedih mendengarkan kisah kehidupannya. Subyek saya sudah tidak memiliki orangtua, keduanya meninggal saat usia subyek masih kecil. Subyek bercerita bahwa yang pertama kali pergi meninggalkannya adalah papanya, kemudian tidak lama kemudian mamanya yang pergi. Subyek sendiri asalnya dari Jawa. Semenjak mamanya tiada, subyek diasuh oleh sang Nenek. Hingga saat subyek menginjakkan kaki di bangku kelas 2 SD, Bibi subyek membawanya ke Jakarta dan langsung memasukkannya ke panti asuhan ini tanpa memberikan alasan ataupun meninggalkan pesan.  Subyek ditinggalkan di Panti seorang diri, seperti diasingkan dan dicampakkan begitu saja oleh keluarganya sendiri. Ditengah wawancara, subyek juga tidak terlalu banyak mau berbicara dan lebih banyak mengeluarkan airmata. Saya juga tidak tega untuk menanyakan lebih lanjut, saya memutuskan untuk berhenti sejenak dan menghibur dia. Kemudian, ketika dia sudah mendingan, saya mulai melanjutkan wawancara. Tiba-tiba, saat saya menyinggung mengenai saudaranya, subyek hanya bisa menggelengkan kepala dan mulai menangis kembali. Hal itu cukup memberikan suatu jawaban bahwa subyek tidak mengetahui keberadaan kedua saudaranya. Subyek saya juga tidak pernah menceritakan masalah keluarganya atau masalah pribadi lainnya kepada temannya atau pengurus panti. Jika dia ada masalah, dia akan memendamnya seorang diri dan menutupnya rapat-rapat.


Satu hal yang saya ingat dari subyek saya, dia punya cita-cita yang sangat mulia. Dia ingin menjadi dokter, dia ingin menolong orang. Saya terharu mendengarkan kata-katanya saat dia mengatakan hal tersebut pada saya. Setelah wawancara selesai, saya tidak langsung meninggalkannya, saya masih berbincang-bincang dengannya. Saya memberikannya semangat, saya masih menghiburnya, membuatnya tersenyum. Saya ingat pesan dan kata-kata saya, saya mengatakan bahwa memang sekarang keadaannya begini, papa-mama sudah tiada, tapi kamu harus bangkit.. Kamu tidak sendiri, lihat diluar sana, kamu punya banyak teman dan yang lainnya yang sayang sama kamu.. kakak percaya kamu bisa hadapi semuanya.. Jangan sedih lagi yah, dek.. Berbagilah sedih dengan orang yang dapat kamu percayakan, bisa dengan ibu panti atau sahabat kamu tadi, dek.. Kamu harus percaya kalau Tuhan pasti akan kasih jawaban dan kasih jalan, jangan lupa berdoa yah, dek.. Semangat yah...!!!

Satu sisi saya bangga dengan subyek saya karena dia cukup tegar dan sabar dengan semuanya. Dia hebat karena dia tidak menunjukkan kesedihannya didepan banyak orang. Sisi lain, saya prihatin dan cukup sedih dengan dia karena dia anak yang sangat tertutup dan memendamkan semua masalah seorang diri. Dari pengalaman saya dipanti asuhan ini, saya belajar banyak hal untuk semakin mensyukuri apa yang masih saya miliki sampai sekarang. Meskipun mama saya sudah tiada, tapi saya masih memiliki seorang Bapak yang sangat sayang pada saya dan memberikan perhatian sepenuhnya pada kami juga, anak-anaknya. Saya beruntung masih memiliki keluarga, teman, dan masih berada diantara orang-orang yang memberikan kasih sayangnya pada saya. Saya juga sangat beruntung masih bisa hidup sampai sekarang, bisa makan, minum, dan jalan-jalan dengan sepuasnya. Saya juga punya tempat tinggal yang layak dan saya masih sehat sampai sekarang, saya sempurna. Terimakasih sudah menyadarkan saya, terimakasih atas pelajaran yang saya peroleh melalui kehidupan kalian, kalian sudah membuka mata hati saya. Terimakasih untuk semuanya.. Terimakasih.. Terimakasih Tuhan Yesus..



Tidak ada komentar:

Posting Komentar