Pada tanggal 02 Juni 2014, saya memiliki
pengalaman yang baru dan suatu pembelajaran yang menurut saya itu sangat
berharga untuk diri saya. Saya dan keempat teman saya berkunjung ke salah satu
panti asuhan yang ada didaerah Kota Bumi, Tangerang. Kedatangan kami ke panti
tersebut adalah untuk memenuhi tugas akhir dalam mata kuliah Teknik Wawancara.
Jarak tempuh dari kampus saya ke lokasi
sebenarnya tidak terlalu jauh. Hanya saja karena saya dan teman saya (Diva) salah
jalan, alhasil jarak tempuh yang sebenarnya hanya 1,5 jam menjadi 4 jam karena kami
salah rute perjalanan. Kami baru tiba dilokasi pada pukul jam 3 siang. Sebelum
menuju panti, saya dan Diva berhenti di persimpangan jalan untuk menunggu Ka
Wenny, Tata, dan Sinta untuk bersama-sama menuju panti tersebut.
Selama diperjalanan, saya melihat pemandangan yang ada sekitar saya, tempat ini berhasil mengingatkan saya akan kampung saya yang di Toba. Di Toba, banyak pohon-pohon dan sawah di sisi-sisi jalan, sama seperti tempat ini. Selain itu, karena tempat panti saya ini berada di pedalaman Kota Bumi nya, udara ditempat ini juga lumayan sejuk dan jauh dari keramaian, suasanya seperti lagi didesa. Rasanya, saya ingin segera ke Medan dan berencana ingin langsung ke Toba, sekalian melihat pemandangan yang ada di Danau Toba.
Singkat cerita, saya dan keempat teman saya
tiba juga ditempat lokasi. Namun, untuk menuju rumah panti tersebut, kami harus
menyeberang jalan yang ada disana dengan bambu. Cukup panik dan lumayan takut
untuk berjalan diatas bambu karena ini pengalaman pertama saya. Setelah saya melewati
bambu-bambu itu, saya memperhatikan Tata dan Sinta yang akan menyeberang. Yang
paling takut diantara kami adalah Tata, karena Tata memiliki badan yang cukup besar dibandingkan dengan kami semua. Jadi, hendak berjalan, dia
takut kalau bambunya akan patah karena menanggung berat badannya.
Setibanya ditempat, kami disambut dengan Ibu
pengurus dan beberapa anak yang ada dipanti. Ketika mereka melihat kami,
anak-anak tersebut langsung menghampiri kami dan memberikan salam pada kami.
Tidak banyak hal yang dapat saya jelaskan bagaimana perasaan saya disana. Tidak
dapat dijelaskan dengan semua kata-kata yang saya tulis disini. Saya melihat mereka
dengan keadaan mereka yang menurut saya cukup prihatan, tapi mereka tidak
menunjukkan kesedihan itu, mereka bahkan banyak tersenyum dan tertawa, serasa
mereka tidak ada masalah. Semua kelihatan sangat bahagia dan ceria karena saya
lihat mereka saling bermain dan berinteraksi.
Disinilah dimulai, setelah berbincang-bincang
sebentar dan turut serta dalam kegiatan mereka, kami mulai melakukan wawancara
cengan subyek masing-masing yang sudah disediakan. Saya sendiri mendapatkan
seorang subyek perempuan, sebut saja namanya Tiwi. Saat ini usia subyek berumur
12 tahun dan duduk dibangku kelas 6 SD. Subyek merupakan anak kedua dari tiga
bersaudara. Selama melakukan proses tanya-jawab, saya sangat sedih mendengarkan
kisah kehidupannya. Subyek saya sudah tidak memiliki orangtua, keduanya
meninggal saat usia subyek masih kecil. Subyek bercerita bahwa yang pertama
kali pergi meninggalkannya adalah papanya, kemudian tidak lama kemudian mamanya
yang pergi. Subyek sendiri asalnya dari Jawa. Semenjak mamanya tiada, subyek
diasuh oleh sang Nenek. Hingga saat subyek menginjakkan kaki di bangku kelas 2
SD, Bibi subyek membawanya ke Jakarta dan langsung memasukkannya ke panti
asuhan ini tanpa memberikan alasan ataupun meninggalkan pesan. Subyek ditinggalkan di Panti seorang diri, seperti
diasingkan dan dicampakkan begitu saja oleh keluarganya sendiri. Ditengah wawancara, subyek juga tidak terlalu
banyak mau berbicara dan lebih banyak mengeluarkan airmata. Saya juga tidak tega
untuk menanyakan lebih lanjut, saya memutuskan untuk berhenti sejenak dan menghibur
dia. Kemudian, ketika dia sudah mendingan, saya mulai melanjutkan wawancara. Tiba-tiba,
saat saya menyinggung mengenai saudaranya, subyek hanya bisa menggelengkan
kepala dan mulai menangis kembali. Hal itu cukup memberikan suatu jawaban bahwa
subyek tidak mengetahui keberadaan kedua saudaranya. Subyek saya juga tidak
pernah menceritakan masalah keluarganya atau masalah pribadi lainnya kepada
temannya atau pengurus panti. Jika dia ada masalah, dia akan memendamnya
seorang diri dan menutupnya rapat-rapat.
Satu hal yang saya ingat dari subyek
saya, dia punya cita-cita yang sangat mulia. Dia ingin menjadi dokter, dia
ingin menolong orang. Saya terharu mendengarkan kata-katanya saat dia
mengatakan hal tersebut pada saya. Setelah wawancara selesai, saya tidak langsung
meninggalkannya, saya masih berbincang-bincang dengannya. Saya memberikannya
semangat, saya masih menghiburnya, membuatnya tersenyum. Saya ingat pesan dan
kata-kata saya, saya mengatakan bahwa memang sekarang keadaannya begini, papa-mama
sudah tiada, tapi kamu harus bangkit.. Kamu tidak sendiri, lihat diluar sana, kamu punya banyak teman dan yang lainnya yang sayang sama kamu.. kakak
percaya kamu bisa hadapi semuanya.. Jangan sedih lagi yah, dek.. Berbagilah sedih dengan orang yang dapat kamu percayakan, bisa dengan ibu panti atau
sahabat kamu tadi, dek.. Kamu harus percaya kalau Tuhan pasti akan kasih jawaban dan kasih jalan, jangan
lupa berdoa yah, dek.. Semangat yah...!!!
Satu sisi saya bangga dengan subyek saya karena
dia cukup tegar dan sabar dengan semuanya. Dia hebat karena dia tidak
menunjukkan kesedihannya didepan banyak orang. Sisi lain, saya prihatin dan
cukup sedih dengan dia karena dia anak yang sangat tertutup dan memendamkan
semua masalah seorang diri. Dari pengalaman saya dipanti asuhan ini, saya
belajar banyak hal untuk semakin mensyukuri apa yang masih saya miliki sampai
sekarang. Meskipun mama saya sudah tiada, tapi saya masih memiliki seorang Bapak
yang sangat sayang pada saya dan memberikan perhatian sepenuhnya pada kami juga, anak-anaknya.
Saya beruntung masih memiliki keluarga, teman, dan masih berada
diantara orang-orang yang memberikan kasih sayangnya pada saya. Saya juga
sangat beruntung masih bisa hidup sampai sekarang, bisa makan, minum, dan jalan-jalan
dengan sepuasnya. Saya juga punya tempat tinggal yang layak dan saya masih
sehat sampai sekarang, saya sempurna. Terimakasih sudah menyadarkan saya,
terimakasih atas pelajaran yang saya peroleh melalui kehidupan kalian, kalian
sudah membuka mata hati saya. Terimakasih untuk semuanya.. Terimakasih..
Terimakasih Tuhan Yesus..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar